Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Melihat Aktivitas Kelompok Ibu-Ibu Sadama, Olah Eceng Gondok Jadi Aneka Karya

Novitri Selvia • Rabu, 28 Desember 2022 | 10:42 WIB
KREATIF: Aktivitas para ibu yang tergabung dalam kelompok Sadama menyulam eceng gondok jadi kerajinan bernilai ekonomi, beberapa waktu lalu.(IST)
KREATIF: Aktivitas para ibu yang tergabung dalam kelompok Sadama menyulam eceng gondok jadi kerajinan bernilai ekonomi, beberapa waktu lalu.(IST)
Aktivitas sekumpulan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Salingka Danau Maninjau (Sadama) di Kecamatan Tanjungraya, Agam, patut diacungi jempol. Lewat tangan kreatif emak-emak ini lahir aneka kerajinan berbahan baku eceng gondok. Seperti apa?

Kreativitas menyulap eceng gondok menjadi kerajinan berharga memang mulai menggeliat di banyak daerah. Di Agam, juga ada puluhan ibu-ibu yang telah menghasilkan aneka karya menarik berbahan tanaman bernama latin Eichornia crassipes ini.

Para ibu-ibu itu bersatu jadi sebuah kelompok bernama Sadama. Kumpulan kaum hawa yang kreatif dari Salingka Danau Maninjau. Sekumpulan masyarakat yang turut menyelamatkan danau legendaris itu dari pencemaran limbah gulma perairan.

Di Danau Maninjau, eceng gondok dianggap sebagai gulma. Sejenis tanaman liar yang keberadaannya tidak diinginkan tumbuh sebab dinilai dapat merusak habitat danau.
Tepatnya, eceng gondok menjadi salah satu limbah yang mengakibatkan perairan Danau Maninjau menjadi tercemar.

Selain limbah dari rumah tangga dan pakan ikan yang mengendap di dasar danau yang selama ini telah mempengaruhi penurunan kualitas sumber air danau sehingga berstatus hipertropik (cemar berat) saat ini.

“Kelompok Sadama kami lahir dua bulan lalu. Semenjak kami selesai mengikuti pelatihan kreasi dari eceng gondok yang difasilitasi PT PLN UIK Sumatera Bagian Selatan bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, dan DLH Agam dengan narasumber dari Tasikmalaya, Jawa Barat,” kata Ketua Kelompok Sadama, Neti Sumarni, kemarin (27/12).

Di samping mendapat pelatihan, kelompok Sadama juga mendapat bantuan peralatan untuk mendukung pengembangan kerajinan tangan produksi mereka. Saat ini kelompok Sadama beranggotakan 20 orang.

Dari tangan terampil mereka, kelompok ini berhasil membuat aneka kerajinan seperti tas, dompet, peci, tempat tisu dan produk lainnya yang tentunya berbahan dasar eceng gondok. Potensi eceng gondok di Danau Maninjau menurutnya, amat melimpah.

Pertumbuhannya sangat masif dan diperkirakan mencapai 10 hektare yang terhampar di permukaan danau di delapan dari sembilan nagari di salingka danau saat ini. “Bahan baku eceng gondok ini kami beli dari warga sekitar dan Satgas Pembersihan Danau Maninjau dengan harga Rp1.000 per kilogram,” kata Neti.

Ia menceriatakan, sebelum diolah atau dibentuk, eceng gondok terlebih dahulu dijemur sampai kering. Setelah kering, eceng gondok baru disulam menjadi tas, dompet, peci, tempat tisu, dan lainnya sehingga lebih bernilai ekonomi.

Untuk 50 kilogram eceng gondok bisa menghasilkan dua sampai tiga tas atau peci. Seorang anggota kelompok Sadama kini sudah bisa memproduksi empat tas per hari dan untuk dompet ukuran kecil bisa sekitar satu unit per jam.

Hasil produksi kerajinan tangan itu dipasarkan di sekitar Kecamatan Tanjungraya bahkan dijual saat ada pameran di Kota Padang. Untuk dompet ukuran kecil dijual Rp10 ribu sampai Rp20 ribu, tas ukuran besar dijual Rp200 ribu sampai Rp300 ribu.

Dengan kondisi itu, anggota kelompok bisa meraih pendapatan tambahan dan Danau Maninjau bisa bersih dari pencemaran eceng gondok. Bahkan saat ini Sadama mengaku agak kesulitan memenuhi permintaan dari konsumen yang terus mengalir.

“Saat ini permintaan cukup banyak dari konsumen perseorangan, hotel, pemerintah, dan lainnya. Produk kerajinan tangan itu dijual dengan beragam ukuran,” jelasnya.

General Manager PT PLN UIK Sumbagsel Djoko Mulyono mengatakan, pelatihan pengolahan eceng gondok merupakan sinergi dengan Pemprov Sumbar dan Pemkab Agam untuk mengatasi masalah pencemaran Danau Maninjau serta meningkatkan peran masyarakat terhadap ekonomi kreatif.

Melalui pelatihan tersebut dapat mempercepat implementasi peran masyarakat dalam upaya penyelamatan Danau Maninjau. Menurutnya, permukaan danau harus dibersihkan dari keberadaan eceng gondok.

Apabila tidak dibersihkan, permukaan Danau Maninjau bakal dipenuhi oleh tanaman itu sehingga danau akan mati akibat cahaya matahari tidak bisa masuk ke dasar danau. Pelatihan itu merupakan program kepedulian masyarat (CSR) PT PLN UIK Sumbagsel dengan mendatangkan kelompok masyarakat kreatif dari Tasikmalaya yakni Family Handycraft yang diketuai oleh Ade Abubakar.

Kepala DLH Sumbar Siti Aisyah menambahkan, salah satu pemicu pencemaran Danau Maninjau adalah tumbuhnya eceng gondok dengan luas mencapai 10 hektare. Eceng gondok bisa memperlambat recovery danau yang seharusnya memulihkan diri sendiri akibat cahaya matahari terhalang oleh hamparan tumbuhan itu.

“Sebenarnya masyarakat di sekitar Danau Maninjau itu sudah ada yang lebih dulu memulai mengolah eceng gondok jadi kerajinan. Jadi secara tidak langsung, dengan adanya kerajinan itu telah turut mengurangi populasi eceng gondok di Danau Maninjau,” katanya.

Dengan adanya pelatihan itu dapat mengurangi persoalan Danau Maninjau yang disesaki eceng gondok. Selama ini pemerintah sudah intensif melakukan gotong royong membersihkan danau dari eceng gondok.

Wali Nagari Koto Malintang, Nazirudin menyampaikan, program pelatihan kerajinan tangan telah membantu dalam penyelamatan danau dari limbah eceng gondok. Apabila eceng gondok tidak dibuang maka danau akan tertutup sehingga ekosistem di perairan tersebut bisa terganggu akibat sinar matahari tidak bisa menembus ke dalam air.

“Upaya yang dilakukan kelompok Sadama juga bagian dari penyelamatan danau dari pencemaran yang hasilnya bisa menambah pendapatan anggota kelompok,” ucapnya.

Camat Tanjungraya Roza Syafdefianti berkomitmen memberikan masukan terkait pengembangan produk kerajinan tangan, agar mutu produk kerajinan lebih bagus. Beberapa produk dari daerah lain juga dibeli untuk memberi inspirasi dan ide bagi anggota kelompok tersebut.

Anggota kelompok juga dijadwalkan studi banding ke Tasikmalaya guna menambah wawasan dalam pengembangan produk sehingga bisa bersaing dengan produk kerajinan tangan daerah lain.

Setelah anggota kelompok Sadama merasakan manisnya hasil dari kerajinan berbahan baku eceng gondok, kini mereka tambah semangat karena usaha kreatifnya terbukti mampu meningkatkan pendapatan.

Kreativitas ibu-ibu Kelompok Sadama terbukti mampu membersihkan perairan Danau Maninjau dari hamparan enceng gondok. Dari tanaman gulma ini pula mereka meraup cuan (untung). (***) Editor : Novitri Selvia
#Tanjungraya #PT PLN UIK #Sadama #DLH Agam #eceng gondok