Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tradisi Rakik-rakik Diusulkan Masuk KEN 2025

Putra Susanto • Kamis, 3 Oktober 2024 | 18:00 WIB

KEARIFAN LOKAL: Salah satu rakik-rakik yang tampil saat Festival Rakik-rakik di Danau Maninjau pada malam takbiran 1 Syawal 1445 Hijriah. (PEMKAB AGAM FOR PADEK)
KEARIFAN LOKAL: Salah satu rakik-rakik yang tampil saat Festival Rakik-rakik di Danau Maninjau pada malam takbiran 1 Syawal 1445 Hijriah. (PEMKAB AGAM FOR PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Pemerintah Kabupaten Agam melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) mengusulkan tradisi rakik-rakik masuk Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025.

Atraksi rakit hias yang sudah mentradisi di tengah masyarakat salingka Danau Maninjau ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. 

Kepala bidang Ekonomi kreatif Disparpora Agam, Adek Ariani menyebut tradisi rakik-rakik sudah masuk kalender iven tahunan Kabupaten Agam.

Tahun ini diusulkan masuk KEN, agar ke depan penyelenggaraannya mendapat stimulus pembiayaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.

“Jika mendapat stimulus, tentu iven ini dapat dihelat lebih meriah. Tahapannya, Dinas Pariwisata sudah presentasi kurasi pertama proposal KEN di hadapan kurator dari provinsi dan menunggu 10 besar untuk lanjut kurasi terakhir,” kata Adek, kemarin.

Ia menjelaskan, tradisi rakik-rakik populer di daerah salingka Danau Maninjau. Tradisi ini biasanya dihelat dalam rangka menyemarakkan suasana pada setiap bulan Syawal.

Rakik-rakik sendiri merupakan kendaraan apung alias rakit yang dibuat dari bambu dan dihias sedemikian rupa seperti bangunan tradisional Minangkabau dan masjid dilengkapi dengan “badia batuang” sejenis meriam yang juga terbuat dari bambu, serta dimeriahkan dengan letusan kembang api.

Dibuka lembaran sejarah, ulas Adek, tradisi rakik-rakik berawal sejak masa penjajahan Belanda di Tanah Air.

Saat itu, para pemimpin Belanda sangat menyukai adu domba antar masyarakat lokal. Mereka membuat kegiatan hiburan yang bertujuan untuk mengadu domba masyarakat.

Kegiatan hiburan itu salah satunya yakni setiap jorong dan nagari membuat rakit yang dipasangi badia batuang atau meriam dari bambu.

Kemudian antar rakit tersebut saling berpacu dengan kekuatan bunyi badia batuang sehingga menimbulkan konflik antar peserta membuat Belanda pada saat itu sangat terhibur.

“Selain rakit, masyarakat juga menggunakan kapal tongkang pada kegiatan tersebut. Kegiatan ini juga sebagai tradisi masyarakat yang gemar gotong royong yang tergambar saat proses pembuatan rakit hingga dilaksanakan iven,” sebutnya.

Adek menambahkan, tahun ini hanya dua nagari yang aktif menggelar iven rakik-rakik yakni Nagari Maninjau dan Tanjungsani.

Tahun depan, jika berhasil masuk KEN, direncanakan seluruh nagari di salingka danau akan berpartisipasi dalam iven ini.

Daerah salingka Danau Maninjau sendiri, katanya, memiliki atraksi budaya dan kesenian tradisional yang beragam.

Selain tradisi rakik-rakik, juga ada pacu biduak, talempong uwaik-uwaik, selawat dulang, permainan pupuik batang padi, tambua tansa, simuntu, lukah gilo, kukuran baradu dan atraksi budaya lainnya yang tak kalah menarik.

“Kita tiap tahun menggelar iven untuk mengenalkan potensi daerah, melestarikan budaya serta kearifan lokal. Di salingka danau, lewat festival seni budaya salingka Danau Maninjau,” simpulnya. (ptr)

Editor : Novitri Selvia
#Tradisi Rakik rakik #Kharisma Event Nusantara #Adek Ariani