PADEK.JAWAPOS.COM-Program TNI Manunggal Membangun Desa/Nagari (TMMD/N) ke-123 pada 2025 di Nagari Balingka, Kecamatan Ampekkoto, Agam, dinilai telah tepat sasaran dan memenuhi harapan masyarakat. Program ini telah membuka keterisoliran Jorong Kotohilalang menuju Pahambatan di Balingka.
DI balik hamparan hijau yang menenangkan mata, di Jorong Kotohilalang dan Pahambatan, Kenagarian Balingka, Agam, sebuah perubahan besar tengah terjadi. Masyarakat di dua jorong ini, kini bisa menghirup angin segar berkat hadirnya sebuah akses jalan baru yang hampir rampung 100 persen.
Jalan baru yang membentang dengan jarak 2.800 meter di Kotohilalang-Pahambatan itu kini telah mulus dan hampir dapat dilalui warga. Sebuah akses yang akan ditapaki masyarakat setempat menuju dunia luar, sekaligus membawa harapan baru bagi kehidupan mereka.
Dulu, akses dari Kotohilalang menuju Pahambatan merupakan perjalanan panjang yang melelahkan. Menembus medan jalan yang sulit. Para petani yang tinggal di Kotohilalang lebih banyak mengandalkan kaki menjangkau kebun-kebun mereka yang jauh. Ya, mereka sangat gigih. Meski hanya untuk mendapatkan hasil bumi.
Namun itu dulu. Sekarang, wajah lelah masyarakat Kotohilalang dan Pahambatan sudah berganti semringah berkat hadirnya jalan baru yang menghubungkan wilayah mereka. Jalan yang sebelumnya sulit ditempuh dan membutuhkan waktu 15 hingga 20 menit, kini bisa dilalui hanya dalam 5 menit.
Nasrul, salah satu warga yang merasakan langsung dampak positif dari proyek pembangunan jalan ini, mengungkapkan rasa syukurnya. Dengan mata berbinar dan penuh rasa kagum, dia menyebutkan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah menjadi ujung tombak dalam merealisasikan jalan yang menjadi harapan mereka.
Tak sekadar membawa program, para prajurit TNI seakan menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Kotohilalang dan Pahambatan. Sebab, bukan hanya dengan tenaga yang mereka curahkan, tetapi kehadiran mereka yang selalu mendekatkan diri dengan masyarakat.
“Dulu, kalau kami ingin menuju Jorong Pahambatan, rasanya sangat jauh sekali. Kami harus melewati jalanan yang rusak dan berbatu, apalagi kalau hanya berjalan kaki menuju kebun, rasanya tak terbayangkan,” cerita Nasrul dengan penuh perasaan.
“Namun kini, berkat pembangunan jalan yang dibantu oleh TNI, kami bisa lebih mudah menjangkau kebun dan beraktivitas sehari-hari. Terlebih lagi, TNI dan masyarakat bekerja bersama, saling bergotong-royong membuka jalan ini. Kami merasa sangat dekat dengan mereka,” tambah Nasrul penuh kebanggaan.
Keberhasilan ini bukan hanya tentang pembangunan fisik jalan semata. Bagi masyarakat Kotohilalang dan Pahambatan, jalan ini merupakan simbol persatuan dan kebersamaan. TNI yang selama ini dikenal dengan disiplin dan tugasnya yang berat, tidak sekadar datang untuk membangun jalan, tetapi juga membawa kedamaian, kebersamaan, dan harapan bagi masyarakat.
Setiap hari, buka puasa bersama menjadi momen yang dinanti oleh setiap warga. Berbagi kebahagiaan dalam suasana penuh keakraban, itulah yang terjadi setiap hari di wilayah ini.
Plh Pasiter Kodim 0304/Agam, Chairul Muhammad, turut memberikan penjelasan terkait keberhasilan program ini. Meski dalam keadaan berpuasa, TNI tetap bekerja tanpa kenal lelah, memastikan jalan ini bisa segera rampung dan membawa manfaat bagi masyarakat.
“Masyarakat dan TNI sudah seperti keluarga di sini. Kami berbuka bersama setiap hari, saling berbagi, dan saling mendukung,” kata Chairul dengan penuh kehangatan.
Dalam proses pembangunan jalan ini, TNI telah memilih wilayah Kotohilalang dan Pahambatan bukan hanya karena faktor geografis, tetapi juga karena keduanya tergolong daerah tertinggal, dan terisolir. Proyek ini bagian dari program TMMD yang bertujuan untuk memperbaiki infrastruktur dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Selain itu, pembangunan jalan ini diharapkan dapat mempercepat akses bagi masyarakat dalam mengangkut hasil perkebunan mereka, meningkatkan perekonomian lokal, dan membuka peluang baru bagi generasi mendatang.
Dengan selesainya pembangunan jalan ini, impian masyarakat Kotohilalang dan Pahambatan untuk memiliki akses yang lebih baik kini menjadi kenyataan. Dari yang dulunya hanya bisa bermimpi, kini mereka bisa melangkah dengan lebih pasti, lebih dekat, dan lebih mudah dalam menjalin hubungan dengan dunia luar.
Sebuah jalan yang tak hanya menghubungkan dua jorong, tetapi juga menyatukan hati dan harapan masyarakat yang telah lama menantikan perubahan. Begitulah, di tengah kerasnya tantangan, dengan kerja keras dan semangat gotong-royong, jalan ini menjadi simbol kebersamaan dan kemajuan.
Sebuah cerita yang membuktikan bahwa ketika masyarakat dan TNI bersatu, tak ada hal yang tak bisa diwujudkan. Seiring berjalannya waktu, jalan ini akan menjadi lebih dari sekadar jalan fisik. Ia akan menjadi saksi dari perjuangan dan harapan yang tumbuh di setiap langkah yang mereka ambil. (SHYNTIA APRIZANI—Agam)
Editor : Novitri Selvia