Pertemuan tersebut dibuka Asisten I Sekretariat Kabupaten (Setkab) Agam, Rahman mewakili Bupati Agam. Ia menegaskan, forum ini sarat makna karena mempertemukan tiga luhak utama sebagai pusat lahirnya adat Minangkabau, yakni Luhak Agam, Luhak Tanahdatar, dan Luhak Limapuluh Kota.
”Ini bukan sekadar pertemuan, tetapi momentum menyatukan visi dalam melestarikan adat, budaya, serta kearifan lokal di tengah tantangan zaman,” ujar Rahman.
Baca Juga: Revisi RTRW Atasi Konflik dan Tumpang Tindih Lahan
Ia mengingatkan kembali bahwa sejarah membuktikan Minangkabau tumbuh besar karena berpegang pada filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Karena itu, marwah adat mesti tetap relevan dan selaras dengan perkembangan dunia modern tanpa kehilangan jati diri.
Rahman juga menekankan pentingnya peran LKAAM dalam menjaga harmoni sosial dan membimbing generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya.
Dalam kesempatan itu, ia memaparkan sejumlah program unggulan Pemkab Agam, di antaranya Bangkik dari Surau, Nagari Creative Hub berbasis masjid, program Sawah Pokok Murah (SPM), serta pencetakan 100 entrepreneur muda.
”Program-program ini tidak akan berhasil tanpa dukungan ninik mamak dan tokoh adat. Pembangunan daerah memerlukan kebersamaan antara pemerintah dengan masyarakat adat agar selalu seiring sejalan,” tegasnya. (ptr)
Editor : Eri Mardinal