PADEK.JAWAPOS.COM-AKSES Maninjau menuju Sungaibatang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, kembali terputus sejak Rabu pagi (10/12).
Hujan deras yang tak kunjung reda memicu naiknya debit aliran banjir bandang yang membentuk sungai baru, menggerus jembatan darurat di Jorong Bancah, Nagari Maninjau.
Pantauan di lapangan menunjukkan gorong-gorong pada jalur darurat itu jebol. Arus kuat dari hulu menghantam polongan buatan, merusak tanah penyangga dan menyeret material di sekitarnya.
“Putusnya akses ini kembali memukul aktivitas pedagang yang hendak ke Pasar Raba’a di Sungaibatang. Pasar ini menjadi nadi ekonomi warga Sungaibatang dan Tanjungsani,” kata Rudi Yudistira, warga Sungaibatang.
Kerusakan juga terjadi di jembatan darurat Batang Tumayo, perbatasan Jorong Kukuban (Nagari Maninjau) dengan Jorong Kubu (Nagari Sungaibatang).
Pagar pegangan bagi pejalan kaki hilang tersapu arus, membuat lintasan ini semakin rawan. Warga diminta ekstra waspada, terutama saat hujan turun, karena potensi bahaya meningkat tajam.
Di sisi lain, Jalur Kelok 44 yang baru sehari kembali normal setelah dibersihkan dari longsor di ruas kelok 8–10, kembali tersekat Rabu pagi akibat pohon tumbang di kelok 10.
Arus kendaraan sempat macet dari dua arah. Rombongan pengantar bantuan dari Ikatan Keluarga Banuhampu (IKB) Pekanbaru ikut terjebak di lokasi.
Setelah menyalurkan bantuan untuk warga terdampak bencana di Matur, rombongan IKB dijadwalkan melanjutkan pengantaran donasi ke Ponpes Buya Hamka di Sungaibatang serta ke warga Salarehaie Utara, Palembayan.
Namun begitu tim gabungan BPDB Agam sudah ke lokasi untuk melakukan evakuasi. Pembersihan diharapkan cepat selesai dan akses kembali normal.
Dalam dua pekan terakhir, Kelok 44 menjadi salah satu titik paling rawan. Longsor berulang membuat jalur Maninjau–Matur beberapa kali lumpuh total. Warga mengaku cemas karena akses vital ini terus diganggu bencana yang susul-menyusul.
Korban Tembus 188 Jiwa
Di lain sisi, jumlah korban jiwa akibat banjir bandang, galodo, dan longsor yang menerjang Agam sejak akhir November kembali melonjak.
Data BPBD Agam per 9 Desember 2025 pukul 20.00 mencatat 188 orang meninggal dunia dan 72 lainnya masih hilang, menjadikan bencana ini salah satu yang terbesar di Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Kecamatan Palembayan menjadi kawasan dengan korban terbanyak. Sebanyak 139 warga meninggal dan 53 orang masih belum ditemukan, dengan titik terdalam berada di Jorong Subarangaia, Nagari Salarehaie Timur.
Kotoalam, Kayupasak, hingga Kampuang Tangah Barat dan Timur juga hancur diterjang material galodo berupa lumpur, batu besar, dan kayu gelondongan.
Korban juga tersebar di kecamatan lain. Malalak mencatat 14 warga meninggal dan 3 hilang, sementara di Tanjungraya, lima korban ditemukan di Jorong Labuah, Nagari Sungaibatang, serta beberapa lokasi lain seperti Dalko, Bancah, dan Kotokaciak.
Satu warga meninggal akibat longsor di Palupuah, dan seorang lainnya hanyut di Lubukbasung.
Kepala Dinas Kominfo Agam, Roza Syafdefianti, menyebut sebagian besar korban ditemukan dalam kondisi tertimbun material berat.
“Banyak korban ditemukan di bawah material berat. Proses evakuasi sangat sulit, bahkan beberapa lokasi tidak bisa dimasuki alat berat karena medan ekstrem,º ujarnya.
Cuaca yang tidak menentu membuat pencarian kerap dihentikan saat hujan deras. “Keselamatan petugas tetap prioritas. Namun pencarian tidak pernah berhenti, baik oleh tim resmi maupun relawan,” kata Roza.
Ia mengakui peluang menemukan korban selamat semakin kecil mengingat bencana sudah lebih dari 10 hari berlangsung. “Kami realistis, tapi tetap berupaya maksimal. Ini tragedi kemanusiaan besar bagi Kabupaten Agam,” ujarnya.
Di berbagai nagari, posko-posko pencarian dipenuhi keluarga korban yang memberikan data identitas, ciri pakaian terakhir, hingga menunggu kabar dari setiap temuan jenazah.
Roza menegaskan saat ini pemerintah fokus pada tiga prioritas utama, pencarian dan penyelamatan korban hilang, identifikasi jenazah, serta pemulihan layanan bagi keluarga terdampak.
“Setiap korban harus diidentifikasi dengan benar. Prosedur kami perketat,” katanya.
Akses menuju sebagian lokasi pencarian hingga kini masih terhambat. Banyak titik hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di nagari-nagari, suasana duka menyelimuti masyarakat.
Pemakaman dilakukan hampir setiap hari, mengikuti temuan korban di lapangan. Roza memastikan perkembangan pencarian akan diumumkan secara berkala melalui posko dan kanal resmi Pemkab Agam. (ptr)
Editor : Novitri Selvia