Kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat serta terganggunya distribusi beras akibat dampak bencana banjir dan longsor yang sebelumnya melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat.
Pantauan Padang Ekspres, Selasa (23/12), menunjukkan kenaikan harga terjadi pada beberapa jenis beras yang umum dikonsumsi masyarakat. Beras merek Benang Pulau yang sebelumnya dijual Rp16 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp18 ribu per kilogram.
Sementara beras IR 42 mengalami kenaikan dari Rp15 ribu menjadi Rp17 ribu per kilogram. Adapun beras Anak Daro naik cukup signifikan dari Rp16 ribu menjadi Rp19 ribu per kilogram.
Salah seorang pedagang beras di Pasar Padangbaru Lubukbasung, Anita, membenarkan adanya kenaikan harga tersebut. Ia mengatakan, harga beras mulai merangkak naik sejak beberapa pekan terakhir dan semakin terasa menjelang momen Nataru.
“Iya, harga beras memang sudah naik. Benang Pulau sekarang Rp18 ribu perkilo, sebelumnya Rp16 ribu. IR 42 juga naik dari Rp15 ribu jadi Rp17 ribu,” ujarnya.
Menurut Anita, kenaikan harga tidak hanya dipicu oleh meningkatnya permintaan akhir tahun, tetapi juga akibat terganggunya pasokan pascabencana alam di daerah pemasok beras.
“Pascabencana kemarin, pasokan dari agen agak tersendat. Ada jalan yang putus, distribusi jadi lambat. Biaya angkut juga naik, itu sangat berpengaruh ke harga,” jelasnya.
Ia menambahkan, stok beras di tingkat pedagang saat ini tidak sebanyak kondisi normal sebelum bencana. Meski belum mengalami kelangkaan, pasokan dinilai tidak selancar biasanya.
“Kadang beras datangnya telat, tidak rutin seperti biasa. Kalau stok sedikit dan permintaan banyak, otomatis harga naik,” katanya.
Meski harga mengalami kenaikan, Anita menyebut masyarakat tetap membeli beras karena merupakan kebutuhan pokok. Namun, sebagian pembeli mulai mengurangi jumlah pembelian atau beralih ke jenis beras dengan kualitas lebih rendah.
“Biasanya beli lima kilo, sekarang ada yang beli dua atau tiga kilo saja. Ada juga yang ganti ke beras kualitas di bawahnya,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan oleh pembeli. Rina (38), warga Lubukbasung, mengaku kenaikan harga beras sangat terasa, terutama setelah bencana alam yang juga berdampak pada kondisi ekonomi keluarganya.
“Pascabencana kemarin, beras juga sempat langka. Jalan banyak yang putus, jadi susah masuk ke Lubukbasung. Sekarang harga naik, tentu memberatkan kami,” ujarnya.
Rina menuturkan, beras merupakan kebutuhan utama yang tidak bisa dikurangi, sehingga masyarakat terpaksa tetap membeli meski harga meningkat.
“Kalau lauk masih bisa disesuaikan, tapi beras tidak bisa. Harapannya pemerintah bisa turun tangan supaya harga stabil,” katanya.
Hal senada disampaikan Yuniar (56), pembeli lainnya. Ia menilai kenaikan harga beras merupakan dampak berantai dari bencana alam yang merusak akses transportasi dan distribusi logistik.
“Setelah bencana, banyak akses jalan yang terganggu. Beras jadi susah masuk, stok di pasar terbatas. Banyak petani juga gagal panen karena sawah rusak,” ujarnya.
Yuniar berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat mempercepat pemulihan infrastruktur serta memastikan distribusi bahan pokok kembali lancar, terutama menjelang Nataru.
Ia juga menyoroti belum adanya operasi pasar murah pascabencana di Kabupaten Agam, di tengah kondisi harga sembako yang terus meningkat.
“Harapannya ada langkah konkret dari pemerintah, seperti operasi pasar atau penyaluran beras cadangan, supaya harga bisa ditekan dan masyarakat tidak semakin terbebani,” pungkasnya. (cr1)
Editor : Adetio Purtama