Terobosan ini dinilai strategis di tengah keterbatasan pasokan energi yang masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah terdampak.
Program ini merupakan hasil kolaborasi Pusat Penelitian Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PPKLH) Universitas Negeri Padang (UNP), Renol Energi, Prawira Group, bersama pemerintah daerah. Melalui inovasi tersebut, sampah plastik yang selama ini menjadi beban lingkungan diolah menjadi bahan bakar solar yang ramah lingkungan dan bernilai guna.
Saat ini, kolaborasi lintas pihak itu telah menghasilkan 1 ton bahan bakar solar yang dimanfaatkan untuk membantu Kabupaten Agam dalam menghadapi situasi pascabencana. Solar hasil olahan sampah plastik tersebut dialokasikan untuk menopang operasional berbagai fasilitas publik, mulai dari pelayanan kesehatan di puskesmas, kebutuhan energi di rumah ibadah, hingga mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang terdampak keterbatasan bahan bakar.
Perwakilan Renol Energi, Mulya Gusman, menyebut inovasi ini tidak hanya menghadirkan energi alternatif, tetapi juga berdampak langsung terhadap pengurangan timbulan sampah plastik. Plastik yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, kini dapat diubah menjadi energi yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Dari sisi akademisi, Direktur Pascasarjana UNP, Prof Indang Dewata, menegaskan program ini menjadi bukti peran aktif perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi nyata atas persoalan lingkungan dan kebencanaan. Inovasi berbasis riset tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan lapangan secara langsung.
Komitmen keberlanjutan juga datang dari dunia usaha. Direktur Operasional Prawira Group, Dimas Andrianto, menyatakan pihaknya siap mendukung pengembangan program ini di Kabupaten Agam. Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Agam, Jafrizal, berharap kolaborasi lintas pihak mampu menekan volume sampah plastik sekaligus mendorong terwujudnya kemandirian energi lokal.
Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Agam, Mhd Lutfi AR, menekankan pentingnya peran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga. Menurutnya, inovasi pengolahan sampah plastik menjadi solar tidak akan berjalan optimal tanpa partisipasi aktif masyarakat. Edukasi perlu dilakukan secara masif agar upaya menjaga lingkungan dapat berjalan berkelanjutan. (*)
Editor : Eri Mardinal