Nelayan Tiku Minta Dermaga Pengaman, Empat Bagan Kandas dalam 8 Bulan

Hendra Efison • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 07:30 WIB
Gubernur Sumbar Mahyeldi temui nelayan di TPI Pasir Tiku, Kabupaten Agam, membahas kebutuhan dermaga pengaman, Senin (21/9/2026).
Gubernur Sumbar Mahyeldi temui nelayan di TPI Pasir Tiku, Kabupaten Agam, membahas kebutuhan dermaga pengaman, Senin (21/9/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM—Nelayan di Tiku, Kabupaten Agam, meminta pembangunan dermaga pengaman untuk melindungi bagan mereka saat kondisi laut memburuk. Dalam delapan bulan terakhir, sedikitnya empat bagan nelayan dilaporkan kandas karena tidak tersedia pelabuhan penyelamatan.

Aspirasi tersebut disampaikan nelayan kepada Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi saat berdialog di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasir Tiku, Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Mutiara, Senin (21/9/2026).

Salah seorang nelayan, Boy (48), mengatakan ketiadaan pelabuhan pengaman membuat bagan nelayan rentan mengalami kerusakan atau kandas ketika kondisi laut memburuk.

“Setiap tahun kami pasti dapat musibah. Tahun kini saja baru hitungan delapan bulan, sudah empat buah bagan kami yang kandas. Kami tidak punya pelabuhan penyelamatan,” ujar Boy.

Nelayan Usulkan Dermaga Permanen

Para nelayan mengusulkan pembangunan dermaga pengaman secara permanen dengan konstruksi beton. Usulan tersebut mempertimbangkan kondisi bagan yang sebagian besar masih menggunakan bahan kayu dan konstruksi tradisional.

Dermaga pengaman dinilai dibutuhkan untuk memberikan perlindungan bagi bagan ketika gelombang tinggi.

Nelayan berharap fasilitas tersebut dapat mengurangi risiko kerusakan maupun kandasnya bagan saat kondisi laut memburuk.

Mahyeldi menilai kebutuhan dermaga pengaman perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan keselamatan nelayan sekaligus keberlangsungan usaha mereka.

Ia mendorong Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar segera mencarikan solusi melalui koordinasi dengan pemerintah pusat dan pihak-pihak terkait.

Pabrik Es Juga Jadi Kebutuhan

Selain dermaga pengaman, nelayan menyampaikan kebutuhan pabrik es sebagai fasilitas pendukung aktivitas perikanan.

Keberadaan pabrik es dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil tangkapan setelah nelayan kembali dari laut.

Dalam dialog tersebut disampaikan bahwa anggaran pembangunan pabrik es sebelumnya telah dialokasikan, namun proses tender belum menghasilkan pemenang.

Mahyeldi meminta berbagai kebutuhan fasilitas nelayan tersebut terus dikawal dan dicarikan penyelesaian sesuai ketentuan yang berlaku.

“Yang terpenting bagaimana kebutuhan nelayan ini kita carikan solusinya. Fasilitas yang dibangun harus benar-benar memberikan manfaat, mendukung aktivitas nelayan, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujar Mahyeldi.

Fasilitas Nelayan Perlu Diperkuat

Mahyeldi menegaskan pembangunan fasilitas bagi masyarakat nelayan harus didasarkan pada kebutuhan nyata di lapangan.

Selain dermaga pengaman dan pabrik es, fasilitas seperti gudang penyimpanan dan sarana pendukung lainnya juga perlu diarahkan untuk memperkuat aktivitas ekonomi nelayan.

Untuk mewujudkan kebutuhan tersebut, Mahyeldi mendorong penguatan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, koperasi nelayan, dan pihak swasta.

Menurutnya, pembangunan fasilitas perlu dilakukan secara bertahap dengan memastikan setiap sarana yang dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, Mahyeldi didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar Seifdinon serta Kepala Dinas ESDM Sumbar Helmi Heriyanto. (*)

Editor : Hendra Efison
Nelayan Tiku Dermaga Pengaman Bagan Nelayan mahyeldi ansharullah kabupaten agam