PADEK.JAWAPOS.COM—Pemerintah Kabupaten Agam menyiapkan program Subuh Bangkit untuk mengajak anak-anak dan pelajar melaksanakan salat Subuh berjemaah di masjid. Program ini menjadi bagian dari gerakan Bangkik dari Surau/Masjid/Mushalla yang diarahkan untuk memperkuat pendidikan karakter dan pembinaan generasi muda.
Bupati Agam Benni Warlis menyampaikan rencana tersebut saat membuka Pelatihan Manajemen Masjid bagi pengurus masjid, surau, dan mushalla se-Kecamatan Ampek Koto, Minggu (25/10/2026).
Benni mengatakan, program Subuh Bangkit direncanakan melibatkan peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA.
Menurutnya, pembiasaan salat berjemaah sejak dini bukan hanya membangun kedisiplinan beribadah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membentuk generasi muda yang religius, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial.
Subuh Bangkit Perkuat Program Bangkik dari Surau
Benni berharap program Subuh Bangkit mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, instansi vertikal, perusahaan, perbankan, hingga masyarakat, terutama orang tua dan guru.
Ia mengajak seluruh unsur masyarakat ikut menghidupkan masjid dan surau sebagai pusat pembinaan karakter serta aktivitas positif bagi anak-anak dan pelajar.
“Kami mengajak kita semua memulai langkah kecil ini agar ke depan bisa melangkah lebih besar. Mari bersama-sama menghidupkan masjid dan surau sebagai pusat kebangkitan umat,” kata Benni.
Program Subuh Bangkit sejalan dengan program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Agam, Bangkik dari Surau/Masjid/Mushalla. Program tersebut bertujuan mengembalikan fungsi rumah ibadah sebagai pusat pendidikan, pembinaan karakter, dan kegiatan produktif masyarakat.
Salah satu upaya yang turut didorong ialah pengembangan Nagari Creative Hub Berbasis Masjid. Melalui inisiatif ini, masjid dan surau diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas melalui seni, olahraga, dan berbagai kegiatan positif lainnya.
Masjid Didorong Menjadi Pusat Pembinaan Generasi Muda
Benni menegaskan, masjid tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual. Pengelolaannya perlu dikembangkan agar memberi manfaat lebih luas bagi jemaah dan masyarakat di sekitarnya.
Ia menjelaskan, pengelolaan masjid perlu mencakup tiga aspek utama, yakni idarah atau manajemen dan administrasi, imarah atau pemakmuran masjid, serta ri'ayah atau pemeliharaan bangunan dan fasilitas.
Ketiga aspek tersebut perlu berjalan beriringan agar masjid terawat secara fisik sekaligus aktif menyelenggarakan kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Benni juga meminta para pengurus masjid, surau, dan mushalla mengikuti pelatihan manajemen dengan sungguh-sungguh. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola rumah ibadah agar lebih mandiri, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan umat.(*)
Editor : Hendra Efison