PADEK.JAWAPOS.COM - RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui edukasi berkelanjutan.
Sebagai rumah sakit rujukan nasional sekaligus pusat layanan kesehatan unggulan di Sumatera Barat, institusi ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kuratif, tetapi juga aktif menjalankan fungsi promotif dan preventif melalui berbagai program edukasi yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Beberapa waktu lalu, rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan tersebut kembali menggelar kegiatan edukasi kesehatan yang melibatkan Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Instalasi Rehabilitasi Medik. Kegiatan yang berlangsung di area Instalasi Rehabilitasi Medik ini diikuti oleh pasien, keluarga pasien, serta masyarakat umum.
Dalam kegiatan tersebut, hadir dr. Riri Prima Yolanda, Sp.KFR, Ped (K), selaku Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik, yang menyampaikan materi bertajuk “Fondasi Masa Depan: Merancang Tumbuh Kembang dan Rehabilitasi Anak.” Materi ini menekankan pentingnya periode emas dalam tumbuh kembang anak sebagai penentu kualitas kesehatan dan kemampuan di masa depan.
Dalam pemaparannya, dr. Riri menjelaskan bahwa masa tumbuh kembang anak merupakan fase krusial yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari kemampuan belajar, perkembangan kognitif, hingga pembentukan karakter. Oleh karena itu, stimulasi yang tepat sejak dini sangat dibutuhkan agar anak dapat berkembang optimal, baik dari sisi motorik, sensorik, bahasa, hingga sosial emosional.
Salah satu topik yang mendapat perhatian besar dalam edukasi tersebut adalah dampak penggunaan layar atau screen time terhadap perkembangan otak anak. Menurut dr. Riri, paparan layar yang berlebihan pada usia dini dapat berdampak pada struktur dan fungsi otak, terutama pada area yang mengatur perhatian, bahasa, regulasi emosi, dan interaksi sosial.
“Banyak orangtua belum menyadari bahwa layar bukan sekadar hiburan. Jika diberikan terlalu dini dan tanpa kontrol, paparan berlebih dapat memengaruhi proses pematangan jaringan otak anak. Otak anak berkembang melalui pengalaman nyata, sentuhan, interaksi, gerak, dan eksplorasi lingkungan, bukan hanya stimulasi visual pasif dari layar,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengangkat konsep “anatomi bermain” sebagai bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Bermain, menurutnya, bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan kebutuhan biologis yang berperan dalam membangun koneksi saraf, melatih koordinasi tubuh, serta mengembangkan kemampuan sosial dan pemecahan masalah.
“Ketika anak bermain, sebenarnya otak sedang membangun jutaan koneksi baru. Bermain adalah laboratorium alami bagi anak untuk belajar tentang dunia. Karena itu, bermain bukan hadiah setelah belajar, tetapi justru proses belajar itu sendiri,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Riri juga mengajak para orang tua untuk menciptakan lingkungan rumah yang kaya stimulasi melalui konsep laboratorium rumah: semua benda adalah mainanku. Ia menegaskan bahwa stimulasi tidak harus menggunakan alat terapi khusus atau mainan mahal.
“Sendok, gelas plastik, bantal, kardus, kain, atau botol kosong dapat menjadi sarana stimulasi motorik, sensorik, bahkan komunikasi. Yang paling penting bukan mahalnya alat, tetapi kualitas interaksi antara anak dan orang tua saat bermain bersama,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya aktivitas bina diri sebagai bagian dari terapi sehari-hari. Aktivitas sederhana seperti makan sendiri, memakai pakaian, menyikat gigi, hingga merapikan mainan merupakan bagian dari proses rehabilitasi yang sangat efektif jika dilakukan secara konsisten.
“Terapi tidak selalu dilakukan di ruang terapi. Aktivitas bina diri sehari-hari justru merupakan terapi paling konsisten yang dapat dilakukan di rumah. Ketika anak diberi kesempatan mencoba, gagal, lalu mencoba kembali, di situlah perkembangan terjadi,” jelasnya.
Tak kalah penting, dr. Riri juga menyoroti manfaat interaksi anak dengan lingkungan alam sebagai bagian dari stimulasi multisensori. Aktivitas di luar ruangan seperti bermain di tanah, rumput, pasir, serta paparan sinar matahari dinilai mampu membantu integrasi sensorik sekaligus meningkatkan kesehatan fisik dan mental anak.
“Alam menyediakan stimulasi multisensori terbaik yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi. Anak perlu berlari, melompat, menyentuh tekstur berbeda, merasakan angin, mendengar suara burung, dan berinteraksi dengan lingkungan nyata. Itu semua adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang,” pungkasnya.
Melalui kegiatan edukasi ini, RSUP Dr. M. Djamil Padang berharap masyarakat, khususnya para orang tua, semakin memahami pentingnya peran lingkungan dan pola asuh dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (rel)
Editor : Adriyanto Syafril