PADEK.JAWAPOS.COM - RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui berbagai kegiatan edukasi kesehatan.
Dalam rangka memperingati Hari Asma Sedunia 2026, rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi menggelar edukasi kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien di Poliklinik Paru RSUP Dr. M. Djamil, Kamis (7/5).
Peringatan Hari Asma Sedunia tahun ini mengusung tema “Akses terhadap Inhaler Antiinflamasi untuk Semua Penderita Asma: Masih Merupakan Kebutuhan Mendesak.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa akses terhadap pengobatan yang tepat, khususnya terapi inhalasi antiinflamasi, masih menjadi tantangan yang perlu diperjuangkan agar seluruh penyandang asma dapat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.
Kegiatan edukasi menghadirkan narasumber dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Dr. dr. Masrul Basyar, yang memberikan pemahaman komprehensif mengenai Asma, mulai dari pengenalan penyakit, faktor risiko, gejala, diagnosis, hingga pengobatan dan upaya pencegahan.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pasien dan keluarga pasien yang aktif mengikuti sesi edukasi serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait pengelolaan asma dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Dr. dr. Masrul menjelaskan bahwa asma merupakan penyakit saluran napas yang sensitif dan mudah mengalami peradangan. Kondisi tersebut menyebabkan saluran napas menjadi lebih reaktif terhadap berbagai pencetus sehingga dapat menyempit dan mengganggu aliran udara.
“Gejala asma yang sering dirasakan antara lain sesak napas, napas berbunyi atau mengi, dada terasa berat, serta batuk terutama pada pagi hari atau malam hari. Gejala ini bisa datang dan pergi, bahkan intensitasnya dapat berubah-ubah tergantung kondisi masing-masing pasien dan faktor pencetus yang dialami,” jelasnya.
Ia menambahkan terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami asma, seperti riwayat keluarga dengan asma, riwayat alergi, obesitas, paparan asap rokok, serta faktor lingkungan lainnya.
Selain itu, terdapat pula berbagai faktor pencetus kekambuhan, di antaranya tungau, debu rumah, asap rokok, udara dingin, infeksi virus, aktivitas fisik berat, stres emosional, parfum menyengat, hingga polusi udara. Menurutnya, penegakan diagnosis asma dilakukan melalui evaluasi gejala klinis, riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan fungsi paru sesuai indikasi medis.
“Diagnosis yang tepat sangat penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai dengan tingkat keparahan penyakitnya,” ucapnya.
Dalam aspek pengobatan, Dr. dr. Masrul menekankan bahwa terapi asma terus berkembang dan salah satu metode paling efektif saat ini adalah terapi inhalasi, khususnya inhaler antiinflamasi yang bekerja langsung pada saluran napas.
Ia menyebut penggunaan inhaler secara tepat, rutin, dan sesuai anjuran dokter menjadi kunci utama dalam mengontrol gejala serta mencegah serangan berulang.
“Banyak pasien merasa sudah sembuh ketika gejalanya membaik, lalu menghentikan pengobatan sendiri. Padahal asma adalah penyakit kronis yang membutuhkan kontrol jangka panjang. Terapi inhalasi yang digunakan dengan teknik yang benar dapat membantu mengendalikan peradangan dan menurunkan risiko serangan,” ungkapnya.
Selain pengobatan, ia juga mengingatkan pentingnya langkah pencegahan melalui penghindaran faktor pencetus, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga sesuai kemampuan, menghindari paparan asap rokok, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan kontrol berkala ke dokter.
Menutup sesi edukasi, Dr. dr. Masrul menegaskan bahwa asma bukan menjadi hambatan bagi seseorang untuk menjalani hidup produktif selama pasien memahami penyakitnya dan disiplin menjalani pengobatan.
“Pesan yang paling penting adalah asma dapat dikontrol. Dengan diagnosis yang tepat, terapi yang sesuai, akses terhadap inhaler antiinflamasi, serta kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, penyandang asma tetap bisa hidup aktif, sehat, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” tutupnya. (rel)
Editor : Adriyanto Syafril