PADEK.JAWAPOS.COM -- RSUP Dr. M. Djamil Padang terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan melalui pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan limbah organik menggunakan metode biokonversi dengan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.
Sebagai rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, RSUP Dr. M. Djamil menerapkan berbagai langkah inovatif untuk mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas pelayanan kesehatan.
Upaya tersebut dilakukan melalui Instalasi Kesehatan Lingkungan dengan memanfaatkan limbah organik yang berasal dari Instalasi Gizi.
Kepala Instalasi Kesehatan Lingkungan RSUP Dr. M. Djamil, Esa Surya Praja, AMdKL, menjelaskan bahwa metode biokonversi merupakan proses penguraian sampah organik menggunakan bantuan makhluk hidup untuk menghasilkan produk yang lebih bermanfaat.
Dalam penerapannya, larva BSF berfungsi sebagai agen pengurai yang mampu mengonsumsi limbah organik dalam jumlah besar. Limbah sisa makanan dan bahan organik dari Instalasi Gizi dimanfaatkan sebagai sumber pakan bagi larva tersebut sehingga volume sampah yang berpotensi mencemari lingkungan dapat dikurangi secara signifikan.
“Pada saat berbentuk larva, Black Soldier Fly mampu mengonversi limbah organik menjadi biomassa yang bermanfaat. Larva ini memiliki enzim dan bakteri dalam ususnya yang membantu memecah bahan organik menjadi nutrisi yang dapat mereka konsumsi, sehingga proses penguraian berlangsung lebih cepat dan efektif,” ujar Esa Surya Praja.
Menurutnya, penggunaan maggot BSF menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan metode pengolahan limbah organik konvensional, seperti pengomposan.
Selain membutuhkan waktu yang lebih singkat, larva BSF memerlukan asupan makanan setiap hari sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengelola limbah organik yang dihasilkan secara rutin.
“Budidaya maggot BSF menjadi alternatif yang sangat baik karena prosesnya lebih cepat dibandingkan pengomposan. Setiap hari maggot membutuhkan makanan dari sampah organik, sehingga limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran dapat dimanfaatkan kembali dan dikelola dengan lebih efektif,” jelasnya.
Melalui program ini, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berupaya mengurangi jumlah limbah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan rumah sakit yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Pemanfaatan teknologi sederhana berbasis alam tersebut menjadi bagian dari implementasi prinsip kesehatan lingkungan yang sejalan dengan transformasi layanan kesehatan nasional. Inovasi ini juga mencerminkan tanggung jawab rumah sakit dalam mendukung pelestarian lingkungan melalui pengelolaan limbah yang efektif.
Esa berharap inovasi biokonversi menggunakan BSF dapat terus dikembangkan dan menjadi contoh bagi fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dalam menerapkan sistem pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan.
“Melalui pengelolaan limbah organik yang tepat, kita tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit, tetapi juga berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan secara lebih luas. Ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk menciptakan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” tutupnya.
Program pengolahan limbah organik berbasis maggot BSF ini menjadi bukti nyata bahwa sektor kesehatan tidak hanya berfokus pada pelayanan medis, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan demi mendukung kesehatan masyarakat secara menyeluruh. (rel)
Editor : Adriyanto Syafril