Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Masalah Gigi di Indonesia masih Tinggi

jpg • Sabtu, 18 Juli 2026 | 10:25 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM -- Masalah ke­sehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Meski sering dianggap sebagai gangguan ringan, kondisi tersebut dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup seseorang, mulai dari kemampuan mengunyah makanan, berbicara, hingga me­nurunkan rasa percaya diri.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan, sebanyak 56,9 persen penduduk berusia tiga tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut. Namun, hanya 11,2 persen di antaranya yang tercatat mem­peroleh perawatan dari tenaga kesehatan gigi.

Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa karies atau gigi berlubang, kehilangan gigi, serta radang gusi masih menjadi persoalan kesehatan gigi yang paling banyak dialami masyarakat. Salah satu kondisi yang kerap diabaikan adalah kehilangan satu atau beberapa gigi.

Padahal, kehilangan gigi tidak hanya memengaruhi penampilan. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi kemampuan mengunyah makanan secara optimal, me­nyebabkan perubahan posisi gigi di sekitarnya, hingga me­ngganggu keseimbangan gigitan.

Jika tidak segera ditangani, kehilangan gigi dalam jangka panjang berpotensi memenga­ruhi kesehatan rongga mulut se­cara menyeluruh dan mengu­rangi kenyamanan saat men­jalankan aktivitas sehari-hari.

Head of Clinic Smart Dental Muara Karang, drg. James Lai, mengatakan penggantian gigi yang hilang melalui metode implan harus diawali dengan pemeriksaan menyeluruh agar perawatan yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Menurutnya, implan gigi bukan hanya bertujuan menggantikan gigi yang hilang, tetapi juga mengembalikan fungsi mengunyah, meningkatkan kenyamanan, dan memperbaiki rasa percaya diri pasien.

“Implan gigi bukan hanya tentang mengganti gigi yang hilang, tetapi juga mengembalikan fungsi kunyah, kenyamanan, dan rasa percaya diri pasien. Karena itu, setiap pa­sien perlu melalui pemeriksaan terlebih dahulu untuk menilai kondisi tulang rahang, gusi, serta kebutuhan perawatan secara keseluruhan. Dengan perencanaan yang tepat, hasil perawatan dapat menjadi lebih nyaman, stabil, dan sesuai dengan kebutuhan pa­sien,” ujar drg. James.

Ia menjelaskan bahwa implan gigi merupakan salah satu metode modern untuk menggantikan gigi yang hilang. Pada prosedur ini, implan dipasang pada tulang rahang sebagai pengganti akar gigi sehingga dapat menjadi penopang yang stabil bagi gigi tiruan.

Meski demikian, tidak semua pasien dapat langsung menjalani prosedur implan. Dokter perlu melakukan evaluasi terhadap kondisi tulang rahang, jaringan gusi, serta kesehatan rongga mulut secara menyeluruh sebelum menentukan apakah pasien meme­nuhi syarat untuk menjalani tindakan tersebut atau memerlukan perawatan pendukung terlebih dahulu.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan edukasi ma­syarakat mengenai kesehatan gigi dan mulut, Smart Dental akan menggelar Smart Dental Implant Week “Kembali Ter­senyum” pada 24–31 Juli 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan edukasi sekaligus layanan konsultasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui kondisi kesehatan gigi dan mulutnya sebelum menentukan pilihan perawatan yang sesuai.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya pemeriksaan sejak dini apabila mengalami kehilangan gigi. Pe­nanganan yang dilakukan le­bih awal dinilai dapat membantu mempertahankan fungsi mengunyah, menjaga susunan gigi tetap stabil, serta men­du­­kung kesehatan rongga mulut dalam jangka panjang. (jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
kesehatan gigi dan mulut