Kabar duka tersebut di-upload putri sulung Prof dr H Kamardi Thalut, Dr Rima Semiarty di status WhatsApp-nya pada pukul 00.45. Rima Semiarty sangat kehilangan papa tercinta yang seorang spesialis bedah sekaligus guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
“Kami sangat kehilangan guru besar yang konsisten dalam pengembangan ilmu kedokteran bedah. Mereka membimbing mahasiswa dari strata mana saja, mulai S-1 hingga spesialis,” ucap Prof Yuliandri yang salut atas dedikasi Kamardi Thalut selama ini.
Prof dr H Kamardi Thalut meninggal di usia 88 tahun. Almarhum meninggalkan lima orang putri, Dr dr Rima Semiarty MARS FISPH FISCM, Dwi Artiana SE, Ir Tri Veriyanti, Tetia Virani Kamardi SH MKn dan dr Quinta Sari SpKK.
Jenazah alhmarhum dikebumikan di kampung halaman Payakumbuh, kemarin
Sebelum diberangkatkan ke kampung halamannya, jenazah almarhum dilepas Rektor Unand Prof Yuliandri di Fakultas Kedokteran Unand. Terlihat anak didik, kolega dan keluarganya, tak dapat menyembunyikan rasa dukanya.
“Beliau sosok langka. Dedikasinya memajukan ilmu bedah tak bisa diragukan lagi. Bagi kami, beliau guru sekaligus orangtua. Beliaulah membidani lahirnya subspesialis bedah anak dan urologi,” ujar guru besar Fakultas Kedokteran Unand yang kini menjabat Wakil Rektor II Prof Dr dr Wirsma Arif Harahap SpB (K).
Prof Wirsma mengaku banyak mendapat pembelajaran hidup dari almarhum. Prof Kamardi di matanya dilahirkan menjadi guru. Baginya, mengajar tugas pertama. Biarpun gempa atau rapat penting, tugas mengajar tetap menjadi yang pertama bagi Prof Kamardi.
“Tak hanya di Sumbar, dokter bedah se-Indonesia hormat kepada beliau. Bahkan, beliau tetap membimbing dokter muda sempai akhir hayatnya. Jelas, kami sangat kehilangan atas kepergian almarhum. Mudah-mudahan nilai kebaikan yang diajarkan almarhum selama ini, bisa kami terapkan selalu,” ujarnya.
Rasa kehilangan juga dirasakan Irsyad Mirwas SpB Dt Palimo Khatib anak didik beliau yang bertugas di RS Provinsi Dr (HC) Ir Soekarno Kepulauan Bangka Belitung “Saya merasa kehilangan dan duka mendalam. Beliau adalah guru sudah dianggap orangtua. Beliau ini sosok yang disegani bagian bedah di Padang maupun Indonesia,” ucapnya.
Menurut dia, sewaktu menjadi mahasiswa dulu, berkat didikan dan motivasi almarhum, kini dirinya sudah jadi dokter bedah pula. Prof Kamardi sosok yang mengajarkan ilmu dasar terutama berkaitan dengan ilmu bedah. Ilmu yang diajarkannya sudah di level filosofi.
“Beliau selalu menasihati dan memotivasi kita untuk jadi dokter bedah yang baik. Serta, selalu meningkatkan ilmu pengetahuan. Saya sering tukar pikiran perkembangan ilmu bedah, sering memberikan nasihat bagaimana jadi dokter bedah dan bergaul sesama dokter bedah dan junior. Jadilah pribadi yang lebih baik. Menangani pasien dengan baik. Beliau sosok yang pengaruh besar untuk hasil yang sudah digapai. Saya benar-benar kehilangan guru sekaligus orangtua kami. Ilmu yang diajarkan akan selalu kami ingat,” ujar dia. (cr7) Editor : Novitri Selvia