Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pendaki Turun Selamat, Hindari Radius 3 Km

Novitri Selvia • Senin, 9 Januari 2023 | 10:15 WIB
WASPADA: Aktivitas Gunung Marapi saat menyemburkan abu vulkanik dan erupsi pada pukul 17.42 WIB, kemarin.(DOK. PUSAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA GEOLOGI)
WASPADA: Aktivitas Gunung Marapi saat menyemburkan abu vulkanik dan erupsi pada pukul 17.42 WIB, kemarin.(DOK. PUSAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA GEOLOGI)
Gunung Marapi yang terletak di Kabupaten Tanahdatar dan Agam mengalami erupsi, Sabtu (7/1) lalu. Tim gabungan terdiri atas Basarnas Padang, BKSDA Sumbar, dan personel TWA Gunung Marapi pun memastikan seluruh pendaki turun dengan selamat.

Hal ini diutarakan Kasiops Basarnas Padang Octavianto. Dia menyebut, 47 pendaki telah turun dari pos BKSDA, 54 pendaki turun di pos pemuda Batu Malano, dan tiga lainnya turun di Kotobaru.

“Semua pendaki yang telah teregister di pos BKSDA sudah turun semua dengan kondisi selamat,” ucapnya, kemarin.

Lebih lanjut, pihaknya tetap melakukan penyisiran dan penelusuran apabila masih adanya pendaki di area Gunung Marapi melalui kantong-kantong bivak para pendaki. “Kita akan tetap pastikan pendaki yang ada di atas apakah masih ada atau tidak. Tetap akan dilakukan pencarian oleh tim hingga situasinya benar-benar terkendali,” tutur Octa.

Dia pun mengimbau agar tidak melakukan pendakian berhubung erupsi yang telah terjadi. Hal tersebut sangat membahayakan dan dapat mengundang kecelakaan. Gunung Marapi yang erupsi sejak Sabtu (7/1) pukul 06.11 lalu, sudah erupsi 37 kali hingga pukul 18.00, Minggu (8/1).

Hingga saat ini, masih berpotensi mengalami letusan. “Dari aktivitas gempa vulkanik yang masih terekam hingga saat ini menandakan bahwa aktivitas gunung masih sangat aktif dan sangat berpotensi untuk mengalami erupsi kembali,” kata Pengamat Gunung Marapi Ahmad Rifandi, Minggu (8/1).

Dua hari pasca-erupsi pertama kali, tercatat 15 kali erupsi terjadi sepanjang Sabtu dan 22 kali erupsi susulan dari pukul 00.00 hingga 18.00 sore pada Minggu (8/1) dengan asap letusan berwarna putih hingga kelabu setinggi 150-200 meter. “Abu dengan intensitas tebal itu lebih condong mengarah ke timur tenggara,” katanya.

Selain letusan, juga terdeteksi 4 kali hembusan, satu kali gempa Tornillo dengan durasi 12 detik, 1 kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 19.5 mm dan durasi 20.8 detik, serta gempa tektonik jauh sebanyak 14 kali dengan durasi antara 45 hingga 200 detik. Termasuk, gempa tremor yang terjadi secara terus menerus.

“Dari Pos Pengamatan Gunung Marapi yang ada di Bukittinggi, Gunung Marapi tak bisa terlihat dengan mata telanjang karena tertutup kabut, dan hingga saat ini (kemarin, red) masih berada di level II atau waspada,” imbuhnya.

Karena masih terjadinya erupsi, Rifandi tetap mengimbau masyarakat, pengunjung maupun wisatawan sekitar untuk bisa menjauhi gunung dengan radius tiga kilometer dari puncak gunung.

“Radius 3 kilometer dari puncak itu memang tidak ada rumah warga dan hanya hutan, namun ada pendaki. Makanya, diminta untuk tidak melakukan aktivitas pendakian atau apapun di area tersebut,” sambung dia.

Erupsi Gunung Marapi terkadang diiringi deformasi yang diakibatkan oleh gempa vulkanik. Sehingga, area di sekitar kawah mengalami longsor ataupun area di sekeliling gunung tersebut. Hal ini diungkapkan Fahrul Rozi, Kepala Pusat Riset Mitogasi Bencana dan Obaervasi Bumi (DMEO).

Katanya, dampak serupa dengan adanya erupsi adalah tertimbunnya beberapa daerah di sekitar gunung akibat muntahan material dari gunung saat erupsi. Fakta ini bisa dilihat saat terjadi erupsi Merapi di Yogyakarta dan juga erupsi Semeru yang menimbun beberapa desa hingga 6 meter.

Menurutnya, aktivitas vulanik bisa dipicu oleh adanya aktivitas tektonik. Pada dasarnya gugusan gunung berapi yang ada di sepanjang pantai barat Sumatera, Jawa hingga ke timur Indonesia muncul akibat adanya aktivitas tektonik.

Beberapa waktu belakangan ini terjadi peningkatan aktivitas gempa di sepanjang zona subduksi di pantai barat Sumatera, Jawa hingga ke Nusa Tenggara. Pada saat sama, juga terjadi peningkatan akivitas gunung berapi.

“Hal ini dapat terlihat dari laporan pusat vulknologi, terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi hingga level II-III di minggu ini. Gunung berapi tersebut seperti Gunung Sinabung, Gunung Kerinci, Marapi di Sumbar, Semeru, Anak Krakatau, Merapi Yogyakarta dan beberapa gunung lainnya,” katanya lagi.

Dia mengingkatkan, agar pemerintah setempat ataupun dinas kebencanaan harus selalu memonitor perkembangan status level dari aktivitas gunung berapi tersebut. Ini untuk menghindari informasi yang salah dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Adakan Ronda Malam

Menyikapi terjadinya erupsi Gunung Marapi sejak Sabtu (7/1), Pemkab Tanahdatar mengimbau warga yang tinggal di lereng Gunung Marapi dan sekitarnya agar senantiasa waspada dan mengadakan ronda malam.

“Semoga erupsinya segera berhenti. Kepada warga kita imbau untuk senantiasa waspada. Kalau diperlukan lakukan ronda malam,” ujar Bupati Eka Putra Sabtu (7/1) malam.

Di sisi lain, Eka juga meminta OPD terkait menurunkan tim untuk terus memantau kondisi Marapi dan melakukan kajian kondisi terburuk serta melakukan antisipasinya. “Camat di daerah yang berada di sekitar kawasan Marapi juga segera koordinasi dengan Forkopimca dan pemerintahan nagari. Segera siapkan Satgas PB Nagari dan Forum Relawan Penanggulangan Bencana,” tegas Eka. (cr5/c7/stg) Editor : Novitri Selvia
#Octavianto #erupsi #gunung marapi #Basarnas Padang