Namun ada juga pemandangan kendaraan-kendaraan yang antre di sejumlah SPBU. Misalnya di SPBU Koto Nan Ampek dan SPBU Ngalau, Kota Payakumbuh. “Sudah satu bulan kondisi pemandangan antre di SPBU terjadi. Sebelum-sebelumnya masih dalam taraf normal dalam pengisian bahan bakar biosolar,” kata sopir truk colt diesel Hendra, kemarin.
Untuk mendapatkan biosolar, dia sudah antre sejak pukul 08.00 WIB. Sekira dua jam kemudian baru dapat giliran pengisian. Kondisi seperti membawa dampak tersendiri bagi dia. “Yang jelas akan menganggu aktivitas harian dengan kondisi antrean pengisian bahan bakar biosolar ini. Belum lagi dampak ekonominya,” ungkapnya.
Kepala Operasional SPBU di Koto Nan Ampek Bursal Ibrahim mengatakan antrean tersebut kemungkinan disebabkan oleh pasokan bahan bakar minyak biosolar dari Pertamina.
SPBU ini mendapatkan jatah biosolar 8.000 liter per hari dan beberapa kali dalam sebulan itu mendapatkan jatah 16 ribu liter.
“Dengan kondisi 8 ribu liter itu bisa habis hanya dalam waktu 7-8 jam,” tuturnya.
Ia berharap Pertamina menambah kuota biosolar dengan pengiriman merata di seluruh SPBU Kota Payakumbuh. “Ini sebagai solusi agar tidak lagi terjadi antrean pengisian bahan bakar biosolar,” harapnya.
Pengawas SPBU Ngalau Muhammad Anshar juga mengatakan hal yang sama. “Dengan kondisi SPBU berada di jalur lintas, 8 ribu liter itu dalam waktu 4,5 jam habis,” ucapnya.
Untuk menyiasati agar tidak terjadi antrean dan kemacetan, SPBU ini buka malam untuk pengisian bahan bakar biosolar. “Buktinya dibuka pukul 03.00, pukul 11.00 sudah habis,” terangnya.
Keluhan masyarakat terhadap kelangkaan biosolar juga terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Kelangkaan itu terjadi dampak dari pengurangan jatah atau kuota oleh Pertamina.
Pengawas SPBU Sago Kecamatan IV Jurai Amrizal menyampaikan, jatah biosolar sudah terjadi sejak awal Oktober lalu.
Jatah biasanya 16.000 liter. Namun memasuki awal Oktober, dikurangi menjadi 8.000 liter. Dia mengakui, kondisi itu membuat masyarakat mengeluh terutama sekali masyarakat petani dan nelayan.
“Pengurangan kuota itu membuat mereka (petani dan nelayan, red) menurun produktivitasnya. Agar kondisi ini tidak berkepanjangan, kami berharap Pertamina bisa kembali memenuhi kebutuhan sesuai dengan sebelumnya,” ujarnya.
Di SPBU Sago sejak pagi hingga Kamis siang (9/11) tidak terlihat antrian panjang kendaraan dan juga terlihat pengumuman “Maaf Solar Habis”. Hermansyah 47, salah seorang warga di SPBU Sago mengatakan, biasanya antrian kendaraan yang menunggu BBM itu mulai terlihat di atas pukul 13.00 WIB, atau menjelang sore.
“Sebab biasanya kiriman sampai di sini mulai di atas pukul 10.00 WIB. Kebetulan saya juga tengah menunggu. Namun saya sengaja tidak mengantri agar tidak menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan di area SPBU,” timpalnya.
Pertalite Juga Langka
Di Kabupaten Sijunjung tidak hanya biosolar yang langka. Pertalite pun demikian. Sehingga area SPBU menjadi terlihat sepi dari puluhan kendaraan yang biasa mengular sedemikian panjang hingga berujung kemacetan. Di sejumlah SPBU di Sijunjung, seperti SPBU Kinantan Nagari Muaro, SPBU Tanahbadantung, SPBI Lubuk Batu, serta SPBU Sibisir, sepanjang hari kemarin tampak sepi dari antrean.
Termasuk halnya antrean sepeda motor yang hendak mengisi bahan bakar jenis pertalite, pun tampak lengang. Dikarenakan pasokan BBM jenis ini dari Pertamina terputus. Sebagai alternatif para pengendara terpaksa membeli pertamax, atau membeli minyak ketengan pinggir jalan.
Salah-seorang sopir truk Ardianto, 48, di kawasan SPBU Tanahbadantung menuturkan, pasokan biosolar terputus sepanjang hari kemarin sehingga tidak ada kendaraan mengantre mengisi bahan bakar.
“Informasi dari petugas SPBU hari ini solar tidak masuk, makanya tidak ada kendaraan mengantre. Biasanya minyak datang malam hari, begitu masuk langsung diserbu pembeli, termasuk pakai jeriken,” ujarnya. Lebih lanjut disebutkannya, bagi kendaraan yang tetap harus beroperasi terpaksa membeli BBM di pinggir jalan dengan harga mahal.
Situasi yang sama juga terlihat di SPBU Kinantan di Nagari Muaro, Kecamatan Sjunjung. Tampak lengang dari antrean truk, bus, mobil pikap, serta kendaraan-kendaraan berbahan bakar solar lainnya. Dikarenakan pasoka BBM jenis biosolar terputus. Termasuk bahan bakar jenis pertalite, diinformasikan tidak masuk sepanjang hari kemarin.
Kecuali pertamax melayani konsumen di salah-satu unit tempat pengisian. “Masalah kelangkaan biosolar dan pertalite bukanlan persoalan baru di Sijunjung. Namun fenomena ini sudah berlangsung lama. Bahkan senantiasa menjadi penyakit menahun yang tidak kunjung terpecahkan,” ungkap Agus B salah-seorang tokoh masyarakat Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung.
Kepala Perusda SPBU Kinantan Nagari Muaro Kabupaten Sijunjung Ardon, yang dicoba dikonfirmasi via telepon selulernya tidak tidak dapat tersambung. Saat coba dikonfirmasi langsung ke ruang kerjanya, dia tak berada ditempat karena sedang dinas luar.
Di Kota Padang, juga terlihat antrean di sejumlah SPBU. Seperti di SPBU Pisang, Kecamatan Pauh. Meski tak ekstreme, beberapa truk dan tangki antre menunggu waktu pengisian bahan bakar. Di beberapa titik terdapat jarak dikarenakan agar tidak menutup akses kedai dan jalan warga sekitar.
Asril salah seorang sopir yang sedang antre mengatakan, kondisi ini sudah terjadi dua bulan belakangan ini. Sehari-harinya Asril membawa mobil tangki dari Padang ke Airbangis, Pasaman Barat. Kondisi BBM yang tersendat ini mengganggu aktivitasnya dalam bekerja.
“Saya telah menunggu sejak pukul 08.00 dan hingga kini pukul 10.55 belum ada tanda akan bisa untuk mengisi biosolar,” ucapnya, Kamis (9/11).
Ia mengatakan dikarenakan semakin banyaknya waktu terluang untuk mengantri tentu saja memperlama waktunya di jalan. Sehingga dia merasa kurang istirahat.
“Biasanya selesai bekerja kita bisa istirahat dan bersantai di rumah. Kemudian malamnya bisa kembali jalan. Namun sekarang, waktu lebih banyak habis hanya dikarenakan menunggu antrean, jika tidak ditunggu tentu kita tidak akan kebangian. Kondisi seperti ini sangat menyulitkan bagi kami,” ungkapnya.
Harapan Asril sederhana. Kondisi kembali seperti semula. Sehingga ia dan sopir lainnya dapat beraktivitas kembali dengan normal.
Hal yang hampir sama juga ditemui di SPBU Kayugadang, Kecamatan Kuranji. Ada beberapa antrean truk dan tengki terlihat.
Aldo salah seorang sopir angkot jurusan Belimbing-Pasar Raya menyebutkan ia sudah menunggu sejak pukul 09.00 namun hingga pukul 11.30 masih belum mendapatkan BBM.
Ia mengatakan, dikisaran waktu tersebut jika ia gunakan untuk mencari sewa, bisa dapatRp 150 ribu minimal. Namun karena harus antrea BBM, hal tersebut tidak bisa ia gapai.
“Akibatnya trip jalan menjadi lambat dan kondisi ini terjadi akhir-akhir ini. Biasanya kita masih mengantri namun tidak perlu selama ini. kita berharap kondisi ini kembali seperti normal, BB< sudah mahal sekarang masa masih susah,” ujarnya.
Padang Ekspres pun berusaha mengonfirmasi kondisi tersebut ke pihak SPBU. Namun pihak SPBU enggan memberikan komentar. Salah seorang pengelola SPBU mengarahkan agar konfirmasi bisa langsung ke Pertamina.
Hingga pukul 21.22 WIB kemarin belum ada keterangan resmi dari Area Corcom Pertamina Parta Niaga. Padang Ekspres sejak pukul 13.27 WIB telah berupaya menyampaikan pertanyaan melalui WhatsApp kepada salah satu staf Corcom Pertamina Parta Niaga Regional IV. Namun hingga berita ini ditulis, jawaban yang didapat, “belum dapat jawaban dari wilayah Sumbar.”
Terpisah, pengamat transportasi Fidel Miro mengatakan, ketersediaan BBM harus bisa dijamin oleh pemerintah sehingga kondisi seperti ini tidak menggangu lajur transportasi.
“Ini yang harus diatur agar pasokan di tiap-tiap daerah terjamin oleh pemerintah. Termasuk Pemprov Sumbar. Karena dengan penjaminan kondisi solar di Sumbar dapat menyelesaikan persoalan antrean panjang di SPBU tersebut dan menghindari penumpukan kendaraan,” tukasnya. (rid/yon/atn/y) Editor : Novitri Selvia