Hingga saat ini, baru dua nama yang mengapung ke permukaan. Selain incumbent Mahyeldi Ansharullah ada juga Bupati Solok saat ini Epyardi Asda.
Pengamat Politik dari Universitas Andalas Prof Asrinaldi melihat pertarungan dua figur tersebut akan menjadi sebuah tontonan yang menarik. Ditambah, dinamika yang terjadi saat ini bisa dibilang cukup panas. Di mana saling serang, baik antar pendukung maupun pernyataan dari masing-masing bakal calon itu sendiri, cukup masif terjadi. Khususnya di media sosial.
“Setiap pilkada memang ada saja isu yang dijadikan topik untuk menunjukan kehebatan atau menjatuhkan orang lain. Itu disambut baik media sosial dan pengikutnya sehingga ramai. Padahal yang disampaikan itu termasuk hal yang biasa saja. Tinggal masyarakat menyikapi karena ini adalah bagian dari menaikan popularitas masing-masing, bahwa mereka siap bertarung di pilkada,” katanya kepada Padang Ekspres kemarin.
Menurut Asrinaldi melihat, berdasarkan hasil survei belakangan ini Mahyeldi masih menjadi yang tertinggi jika diadu dengan nama-nama yang pernah ikut serta pada pilgub sebelumnya.
“Ketika Epyardi maju, tentu masyarakat akan berpikir lagi. Sadar atau tidak sadar tentu saja ada masyarakat yang akan memberikan dukungan apalagi dikampanyekan di media sosial. Namun dalam konteks sebagai petahana yang memiliki akses terhadap kekuasaan dan kendali terhadap kekuasaan tentu yang lebih diuntungkan adalah Mahyeldi,” ucapnya.
Dia berpendapat, meski memiliki kedudukan yang kuat, mengalahkan Mahyeldi tentu saja masih sebuah kemustahilan pada pilgub tahun ini.
“Saya pikir peluang tersebut ada. Cuma perlu diingat, PKS memiliki basis masa yang solid dan tidak akan terbantahkan. Paling tidak suara basis mereka sudah jelas dan menjadi keuntungan bagi mereka dibandingkan politisi lain yang memiliki basis namun tidak sefluktuatif dari PKS,” jelasnya.
Apakah ada peluang bagi calon selain Mahyeldi? “Tentu saja ada namun tergantung strateginya. Tinggal saat ini apabila Epyardi memilki strategi yang jitu dan memiliki wakil gubernurnya yang mempunyai basis masa yang kuat dan diterima masyarakat, dapat mendongkrak naik suaranya,” tutur dia.
Terpisah, pengamat politik Aidinil Zetra juga melihat Mahyeldi masih unggul berdasarhasil survey. Elektabilitasnya paling tinggi diantara para tokoh yang mulai muncul di permukaan.
“Tentu itu berarti tidak mungkin bagi para tokoh-tokoh lainnya untuk meningkatkan elektabilitasnya. Sekarang kita sudah melihat nama-nama yang mulai mengapung. Salah satunya Epyardi,” katanya.
Untuk memenangkan pilkada di Sumbar, tekan akademisi dari Universitas Andalas tersebut, para tokoh yang akan muncul atau yang ingin berkonstentasi harus memahami karakteristik masyarakat Sumbar.
Referensi politik masyarakat Sumbar harus dijadikan acuan utama. “Sumbar ini begitu kha dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia,” ingatnya.
Aidinil menyebut, beberapa potongan video yang muncul, baik dijagat maya ataupun sosial media saat ini, menunjukan adanya konflik antara Epyardi dan Mahyeldi. Konflik yang muncul dan disebarluaskan tersebut bisa menjadi langkah yang kurang tepat untuk mengalahkan Mahyeldi.
“Dengan narasi-narasi kebencian, itu justru menyebabkan simpati masyarakat terhadap tokoh akan berkurang. Kalau ingin bersaing di dunia politk, kita harus paham bagaimana karakteristik masyarakat Sumbar yang beradab. Artinya para kontestan pun harus memperlihatkan karakter-karakter pemimpin yang beradab,” ujarnya.
Terkait dengan peluang untuk menumbangkan Mahyeldi, sama seperti Asrinaldi, Aidinil mengatakan peluang tersebut masih terbuka.
“Peluang tersebut selalu ada di dalam politik. Cuma peluang tersebut besar atau kecil sangat tergantung kepada upaya yang dilakukan kepada para pendatang baru untuk bisa mengalahkan incumbent,” terangnya.
Di antaranya, apakah memiliki mesin politik yang tangguh? Atau bisa membangun citra politiknya dengan waktu sangat singkat. Kemudian menyampaikan ide atau gagasan secara luas kepada masyarakat di Sumbar dalam waktu yang sangat singkat.
Apakah ide-ide yang disampaikan kepada masyarakat tersebut matching dengan masyarakat atau tidak? “Itu sangat memengaruhi peluang. Kalau hanya dengan spanduk atau dengan mengandalkan mesin politik yang sedaanya tentu peluangnya sangat kecil,”ujarnya.
Aidinil berpesan kepada para calon dan tokoh-tokoh di Sumbar yang akan berkecimpung pada Pilgub 2024 untuk menunaikan hak-hak masyarakat dengan menyapaikan ide-ide atau gagasan secara luas kepada masyarkaat di Sumbar.
“Sehingga masyarakat mengetahui secara jelas yang memotivasi para calon tersebut untuk maju. Sehingga orang betul-betul memilih dengan cerdas,” terangnya. (y)
Editor : Novitri Selvia