PADEK.JAWAPOS.COM-Akses jalan lintas yang menghubungkan Riau dan Sumbar di KM 106/107, Desa Tanjungalai, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, sejak mengalami kerusakan beberapa waktu lalu, mengganggu perputaran ekonomi Sumbar.
Sebab pasokan kebutuhan pokok yang biasa di supply dari Sumbar membutuhkan waktu pengiriman panjang dan jarak yang jauh dari biasanya.
“Sebagian kawan-kawan pemasok beras dan sayuran dari Limapuluh Kota untuk Kota Pekanbaru dan daerah lainnya di Provinsi Riau, ada yang memilih menunda pengiriman barang. Sebab terganggu jalan yang rusak di XIII Koto Kampar,” ucap Reki Tambiro, salah seorang pedagang beras dan sayuran asal Limapuluh Kota, Minggu (1/12) malam.
Meski sebagian pedagang memilih tidak mengirim barang ke Pekanbaru, namun Reki memilih tetap mengantar dagangannya, meski akses yang harus ditempuh via Lintau-Sijunjung- Kiliranjao cukup jauh dan memakan waktu tempuh yang panjang.
Tentu saja membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan rute biasa via Kotokampar.
“Kita harus tetap mengantarkan barang dagangan demi menjaga pelanggan. Jika tidak, tentunya berisiko bagi kita sebagai pedagang yang bisa saja kehilangan langganan tetap di Pekanbaru. Meski harus berbiaya tinggi, kita tetap usahakan untuk mengantar barang dagangan ke Riau,” kata Reki lagi.
Hal yang sama disampaikan Hendra Kaludan, seorang pedagang beras yang rutin mengantarkan dagangannya ke Pekanbaru.
Menurutnya, jarak tempuh ke Pekanbaru dari Limapuluh Kota via Kiliranjao selain jauh, juga terkendala kondisi jalan Provinsi Sumbar di Kecamatan Lareh Sago Halaban, Limapuluh Kota hingga Lintau, Kabupaten Tanahdatar yang rusak parah.
“Apalagi saat mobil bermuatan berat, kita harus ekstra hati-hati sekali. Sebab lubang di badan jalan cukup dalam mulai dari Tanjuang Gadang hingga Lintau. Selain itu, jalan di Kiliran Jao juga ada yang sedang diperbaiki, sehingga tidak luput juga dari kemacetan,” kata Hendra.
“Pada kondisi buka tutup yang terjadi beberapa hari lalu, rekan kita yang berangkat mengantar beras ke Pekanbaru, Jumat (29/12) lalu, sampai hari ini (kemarin, red) belum juga sampai di rumah. Informasinya, sudah satu hari satu malam terjebak macet,” kata Hendra lagi.
Sementara pedagang sayuran yang biasa mengantar dagangannya menuju Riau, banyak memilih untuk tidak berangkat. Sebab sayuran tidak bisa bertahan lama dijalan. “Risiko busuknya sayuran, sebelum sampai di lokasi sangat tinggi,” ucap Gindo salah seorang pedagang asal Limapuluh Kota.
Kondisi itu pun membuat harga sayuran di Limapuluh Kota mengalami penurunan harga.
“Harga sayuran saat ini, cenderung turun akibat melemahnya daya beli, sepertinya termasuk akibat pedagang antar provinsi yang terkendala jalan putus. Sehingga permintaan sayuran turun saat ini,” ucap Ari salah seorang pedagang sayuran.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Limapuluh Kota, Rahmadinol menyebutkan, berdasarkan informasi dari salah satu grup media sosial bencana Riau, jalan Pekanbaru-Riau via Kotokampar tutup total mulai Minggu (1/12).
Picu Kemacetan
Putusnya akses Riau-Sumbar via Kotokampar memicu terjadinya kemacetan parah jalan lintas Sumatera (Jalinsum) di Kabupaten Sijunjung. Tepatnya di kawasan Kiliranjao, Kecamatan Kamangbaru, Minggu (1/12).
Ruas jalan ini kini menjadi akses utama kendaraan dari Riau dan Jambi menju Sumbar serta sebaliknya.
Sebagaimana diketahui, sebelumnya kawasan Kiliranjao juga telah diwarnai kemacetan akibat adanya pemberlakuan sistem buka tutup, menyusul digelarnya kegiatan proyek pengerjaan rigit beton dari arah Sijunjung menuju Kabupaten Dharmasraya.
Kendaraan-kendaraan yang melintas dari kedua arah bahkan terkadang harus terjebak selama lebih dua jam.
Dengan adanya kasus jalan putus di Kotokampar maka akses Sumbar-Riau diarahkan melewati jalur alternatif, yakni jalan Lipatkain - Kuansing - Kiliranjao.
Begitu pula sebaliknya dari arah Riau - Sumbar. Alhasil kemacetan parah terjadi sepanjang Minggu (1/12) hingga waktu tengah malam.
Situasi kian tidak kondusif lantaran Simpang Kiliran Jao juga menjadi akses utama bagi segenap kendaraan dari arah Jambi - Dharmarsaya - Riau. Sehingga Simpang Kiliran Jao betul-betul penuh sesak oleh berbagai jenis kendaraan, baik kendaraan pribadi, bus, serta angkutan barang.
Kapolres Sijunjung AKBP Andre Anas menuturkan, puluhan personel Satlantas dibantu tim Polsek Kamangbaru sudah diturunkan ke lokasi untuk melakukan pengaturan arus lalin.
Yakni dengan cara menerapkan sistim melaju secara bergantian dari arah Sijunjung - Dharmasraya - Kuansing, dan durasi waktunya disesuaikan dengan keadaan.
“Ya, hingga malam ini puluhan anggota masih berada di lapangan untuk melakukan pengaturan arus,” ujarnya.
Dalam situasi ini, ulas Andre, ada beberapa jenis kendaraan yang diupayakan perioritas, diantaranya adalah mobil ambulans yang membawa pasien darurat menuju runah sakit, mobil pemadam kebakaran, serta lain sebagainya sesuai tingkat kedaruratannya.
Selebihnya tetap harus menunggu antrean sampai gilirannya melaju pada jalurnya dibuka.
Selain pihak Kepolisian, juga terlihat berjaga-jaga sejumlah kendaraan BPBD, mobil patroli Dishub, mobil derek Dinas PUPR, serta mobil ambulan puskesmas. Bertujuan untuk menangani hal-hal tak diinginkan bila sewaktu-waktu muncul. (fdl/atn)
Editor : Novitri Selvia