Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pekan Depan KM 106-107 Jalur Riau-Sumbar Kembali Dibuka

Yulicef Anthony • Kamis, 5 Desember 2024 | 10:45 WIB

PROGRES 70 PERSEN: Jalan lintas Riau-Sumbar di KM 106-107, Desa Tanjungalai, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, kemarin. (KAMARUDDIN/JPG)
PROGRES 70 PERSEN: Jalan lintas Riau-Sumbar di KM 106-107, Desa Tanjungalai, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, kemarin. (KAMARUDDIN/JPG)

PADEK.JAWAPOS.COM-Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Riau saat ini masih terus mengerjakan pembuatan trase baru di jalan lintas Riau-Sumbar.

Tepatnya di KM 106-107, Desa Tanjungalai, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, yang sebelummya mengalami longsor. Hingga saat ini, progres pengerjaan sudah mencapai 70 persen.

Kepala BPJN Riau Yohanes Tulak Todingrara melalui PPK 1.4 BPJN Riau Afdirman Jufri mengatakan, saat ini pekerjaan trase baru tersebut difokuskan pada lebar dan kelandaian jalan. Karena trase baru yang dibuat berada disisi jalan existing yang longsor dan cukup curam.

“Saat ini tim masih mengerjakan lebar dan kelandaian jalan. Kemudian juga terus dilakukan pemadatan,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, jika cuaca bagus dan tidak terus turun hujan dilokasi. Pihaknya menargetkan pekan depan pengerjaan trase baru tersebut telah selesai.

“Target kami Selasa pekan depan kalau cuaca bagus pekerjaan trase baru sudah selesai. Kemudian jalan lintas Riau-Sumbar bisa dibuka kembali. Saat ini progresnya sudah 70 persen,” tekannya.

Untuk mengantisipasi cuaca yang kerap hujan, pihaknya juga menambah material terpal di lokasi trase baru. Hal ini dilakukan agar saat hujan, jalan tetap padat sehingga lebih cepat dapat dilalui.

“Kami mengantisipasi dengan menambah terpal. Mudah-mudahan cuaca bagus sehingga target pekerjaan trase baru selesai pekan depan dapat tercapai,” harapnya.

Hingga kemarin, jalan lintas tersebut masih ditutup total. Penutupan ini sudah berlangsung sejak Ahad (1/12) lalu.

Karena ditutup total, beton pembatas dipasang kalau dari arah Pekanbaru di Rumah Makan Bareh Solok. Kalau dari arah Sumbar pembatas dipasang di Rumah Makan Kelok Indah.

Personel Satlantas Polres Kampar berjaga di beton pembatas ini berjaga agar tidak ada kendaraan yang melintas. Karena pekerja masih bekerja memperbaiki jalan fungsional.

Sementara di jalan fungsional yang diperbaiki dipasang tarpal. Tampak para pekerja masih bekerja di jalan fungsional yang masih dalam perbaikan.

Kasatlantas Polres Kampar AKP Vino Lestari menjelaskan, jalan lintas Riau-Sumbar KM 106-107, Desa Tanjungalai, Kecamatan XIII Kota Kampar, Kabupaten Kampar, masih ditutup total.

Dia mengimbau kepada pengendara dari arah Pekanbaru untuk menggunakan jalan alternatif Lipatkain-Telukkuantan-Kilirinjao ke Sumbar. Dari arah Sumbar melewati Kilirinjao-Telukkuantan-Lipatkain ke Pekanbaru

“Untuk kendaraan dari arah Pekanbaru hanya sedikit yang di Rumah Makan Bareh Solok yang antre. Kebanyakan pengendara lebih memilih putar balik. Sementara kendaraan dari arah Sumbar yang sudah masuk ke dalam beton pembatas di Rumah Makan Kelok Indah kita jalan satu-satu,” jelas Vino Lestari.

Macet Bikin Stres

Pengalihan jalan dari Sumbar ke Riau dan sebaliknya via Lipatkain-Kiliranjao, Kabupaten Sijunjung, membuat kawasan Kiliranjao menjadi tidak kondusif. Kemacetan akut terjadi hingga kemarin (4/12).

Tidak tanggung-tanggung panjang kemacetan dilaporkan telah mencapai 17 kilometer. Mulai dari daerah perbatasan Tanjunglolo-Simpang Kiliranjao. Demikian pula halnya dari arah Kabupaten Dharmasraya dan Talukkuantan menuju Kiliranjao mengalami macet parah.

Hingga kemarin persoalan ini belum dapat terpecahkan, kecuali para pengendara diminta agar tetap tertib, tenang, bersabar. Meski mereka harus terjebak berjam-jam di jalanan. Terlebih pada malam hari, arus kendaraan menjadi kian penuh sesak dari segala arah.

Faisal, 52, seorang pengendara travel asal Jambi mengaku sangat stres lantaran terjebak macet selama semalam suntuk di kawasan Kiliranjao.

Para penumpang hendak menuju Kota Padang pun bermalam di jalanan sebelum akhirnya tiba di daerah Tanjunggadang, Sijunjung. “Kemacetan kali ini betul-betul parah. Kami merasa sangat stres,” ujarnya.

Puluhan personel Polres Sijunjung bersama TNI dan Dishub Sijunjung terlihat masih siaga di beberapa titik arus macet melakukan pengaturan arus lalin.

Sepanjang Rabu (4/12) sore dilaporkan sejumlah kendaraan dari arah Sijunjung nekad menerobos arus. Masuk ke arah jalur belawanan hingga bertubrukan dengan kendaraan arah berlawanan. Tak pelak kendaraan dari kedua arah jadi berseleweran di tengah padatnya arus macet.

Atas masalah tersebut petugas kepolisian menggiring kendaraan melawan arus keluar dari badan jalan arah ke kanan, diikuti sanksi tilang. Sementara sejumlah truk bermuatan berat mengalami mogok (rusak) terparkir di tepi jalan.

Kapolres Sijunjung AKBP Andre Anas menuturkan, puluhan personel Satlantas dibantu tim Polsek Kamangbaru masih berada di lapangan untuk melakukan pengaturan arus lalin.

Sistem melaju diseting secara bergantian dari arah Sijunjung - Dharmasraya - Kuansing dengan durasi waktu ideal. “Malam ini puluhan anggota masih disiagakan di lapangan melakukan pengaturan arus,” ujarnya.

Perlu Solusi Jangka Panjang

Pengamat transportasi Fidel Miro mengatakan, pelajaran harus diambil dari kondisi ini. Untuk kondisi seperti ini harus ada antisipasi jangka pendek dan jangka panjang.

“Jangka pendek kita dapat melakukan mitigasi, daerah Sumbar-Riau yang geografisnya didominasi daerah pegunungan yang rawan bencana, kita harus membuat konstruksi jalan yang memiliki ketahanan termasuk dari bencana,” katanya.

Dia menyampaikan, jika pemerintah mampu membuat konstruksi jalan yang kuat serta tahan dari bencana seperti longsor, banjir dan sejenisnya tentunya kondisi serupa dapat diminalisir sehingga mengurangi kerugian.

Demikian untuk jangka Panjang. Ia mengungkapkan percepatan jalur tol Sumbar-Riau menjadi salah satu alternatif antisipasi kondisi serupa kedepannya.

“Lebih cepat lebih bagus apalagi keberadaan jalan tol tersebut sangat bermanfaat selain memperpendek jarak tempuh dan membuat harga kebutuhan pokok jauh lebih murah tentunya,”ujarnya.

Hal senada disampaikan pengamat transportasi yang juga Rektor Universitas Metamedia Yossafra. Keberadaan jalur tol, sebutnya, sebagai antisipasi putusnya akses jalan penghubung dua provinsi tersebut.

“Tentu menjadi salah satu alternatif. Meski tidak bisa dipungkiri jalur tol juga bisa mengalami kejadian serupa. Namun memang perlu adanya jalur-jalur alternatif ketika satu lokasi tertutup seperti kondisi yang terjadi saat ini,” ungkapnya.

Terkait kondisi ini Yossafra mengatakan hal yang harus dipahami bersama oleh kedua pemerintah daerah baik Sumbar maupun Riau dan pemerintah pusat adalah aspek kerugian ekonomi dari kondisi saat ini.

Seperti tergangunya harga pangan serta pergerakan wisatawan ke Sumbar dimomentum akhir tahun seperti saat sekarang ini.

“Beberapa waktu yang lalu kami diundang oleh BPJN berbicara terkait dengan kebencanaan pada ruas jalan Nasional di Sumbar. Dalam forum itu kami mendapatkan informasi dari pemerintahan Sumbar bahwa kerugian dalam satu hari itu mencapai hampir Rp 50 miliar karena terputusnya suatu akses jalan. Jadi bisa dibayangkan saja kalau misalnya 4 hari atau 5 hari terputus,”ujarya.

Ia menekankan, ruas-ruas jalan di Sumbar-Riau merupakan ruas-ruas jalan yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana serupa.

“Diakhir tahun lalu masih di ruas Sumbar-Riau walaupun berbeda lokasi namun beresiko terjadi longsor, banjir dan jalan terban. Harusnya penyelengara jalan seperti BPJN mengidentifikasi per segmen dan melakukan analisis risiko bencana apakah tinggi, sedang ataupun rendah,” tukasnya. (sol/kom/rpg/atn/yud)

Editor : Novitri Selvia
#jalan lintas riau sumbar #jalan dibuka kembali #bpjn riau #Yohanes Tulak Todingrara