Prediksi itu disampaikan Sri Mulyani dalam keterangan pers secara virtual tentang APBN, kemarin. Sri Mulyani mengatakan, skenario terburuk pertumbuhan ekonomi di kuartal III ada di kisaran 0 sampai minus 2 persen. Dengan proyeksi ini, artinya Indonesia akan masuk resesi, karena mengalami pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut.
Proyeksi Sri Mulyani ini sedikit mengejutkan. Soalnya, sebelum-sebelumnya, dia masih terlihat optimis. Dia yakin Indonesia bisa terhindar dari resesi. Kenapa berubah? Sri Mulyani menjelaskan, aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha memang sudah mulai pulih sejak Juni lalu. Namun, hal itu tak cukup kuat untuk berlanjut ke kuartal ketiga.
Beberapa sektor usaha justru kembali negatif seperti saat di masa awal pandemi korona. “Kami melihat di kuartal III, down side-nya ternyata tetap menunjukkan suatu risiko yang nyata. Negatif 2 persen karena ada pergeseran dari pergerakan yang terlihat belum sangat solid,” jelasnya.
Sri Mulyani menerangkan, pertumbuhan negatif sangat mungkin lantaran tingkat konsumsi masyarakat masih sangat lemah meski mendapat bansos dari pemerintah. Tingkat konsumsi masyarakat tercatat minus 5,51 persen pada kuartal II-2020. Di sisi lain, realisasi anggaran bansos juga masih sangat rendah. Dari Rp 203,91 triliun yang dialokasikan, baru 45 persen atau sekitar Rp 93,1 triliun yang terealisasi.
Andaipun realisasi bansos besar, Sri Mul masih sangsi. Dia melihat, bansos tak cukup mampu mengungkit pertumbuhan ekonomi. Sebab, kelas menengah dan atas belum pulih belanja konsumsinya. “Kalau hanya dari bansos, growth (pertumbuhan) tinggi, tapi tetap tidak bisa mengembalikan fungsi konsumsi,” jelasnya.
Sri Mulyani juga melihat kontribusi investasi masih belum maksimal. Di kuartal II, pertumbuhan investasi terkontraksi 8,61 persen. “Kuncinya adalah konsumsi dan investasi. Kalau konsumsi dan investasi masih di negative zone, meskipun pemerintah all out dari segi belanja, akan sangat sulit untuk masuk di dalam zona netral di nol persen di 2020 ini,” terangnya.
Dengan kondisi ini, Sri Mulyani memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 akan berada di kisaran minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen. Tergantung pada kuartal ketiga dan keempat nanti. “Apakah mereka bisa kembali pada zona netral minimal atau bahkan sedikit positif,” ungkapnya.
Pengamat Ekonomi dari Unika Atmajaya, Rosdiana Sijabat sependapat dengan Sri Mulyani. Dalam hitungannya, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 sudah pasti negatif. Berbagai indikator menunjukkan hal tersebut.
Dia juga setuju dengan sikap Sri Mulyani yang realistis. Tidak mengumbar angin surga bahwa ekonomi kita baik-baik saja. “Seorang Menteri Keuangan memang harus memberikan proyeksi yang riil agar memulihkan kepercayaan pasar,” ucapnya, di Gedung DPR, kemarin.
Yang harus dilakukan pemerintah saat ini, lanjutnya, adalah mencegah agar anjloknya ekonomi tak terlalu dalam. Caranya, dengan memaksimalkan serapan anggaran pemerintah. Sayangnya, serapan anggaran kementerian masih rendah. “Ini yang membuat kita kecewa. Kondisi krisis saat ini tidak bisa dilakukan dengan administrasi yang biasa-biasa saja. Kalau serapan masih rendah, kita akan kehilangan momentum untuk bangkit,” jelas Rosdiana.
Menurut dia, kalau serapan anggaran dana pemulihan ekonomi sudah bisa di atas 75 persen menjelang September nanti, ada harapan pertumbuhan bisa 0 persen. “Tapi, kalau kondisi masih seperti sekarang, sepertinya sulit diharapkan,” ujarnya. (bcg/jpg) Editor : Novitri Selvia