Predikat kategori ini diberikan oleh Dewan Energi Nasional (DEN) RI dalam kegiatan Energy Transition Conference & Exhibition (ETCE) 2023 di Assembly Birawa, Hotel Bidakara Jakarta beberapa hari lalu.
Provinsi Sumbar ditetapkan oleh DEN sebagai juara 3 yang berhak menerima penghargaan kategori ini, setelah Jawa Barat yang menduduki juara 2 dan Provinsi Jawa Timur sebagai juara 1. Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar Hansastri, mewakili Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah hadir langsung menerima penghargaan.
Bukan kali pertama, sebelumnya di 2022, Provinsi Sumbar juga meraih penghargaan oleh DEN sebagai juara 2 Pengimplementasian Perda tentang Rencana Umum Energi Daerah Provinsi (Perda RUED-P), khususnya untuk penggunaan EBT.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat Eric Rossi Priyo Nugroho mengaku turut bangga atas penghargaan yang diraih Sumbar. Menurutnya, ini membuktikan keselarasan visi dan misi bidang ketenagalistrikan antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan PLN.
“Pemprov Sumbar melalui Dinas ESDM sangat serius dalam mewujudkan program ketahanan energi di Indonesia, diantaranya dengan terus mendukung dan memperluas pengembangan pembangkit-pembangkit EBT. Menjadi kebanggaan bagi PLN sebagai perusahaan jasa ketenagalistrikan dapat terjun langsung dalam upaya serius pemerintah ini,” tutur Eric.
Ketahanan energi melalui pembangkit energi hijau atau EBT, lanjut Eric, pun sejalan dengan percepatan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) di 2060. Maka dengan sinergi dan kolaborasi yang harmonis antara pemerintah, pihak terkait, dan PLN, PLN optimis Sumbar dapat sukses merealisasikan NZE 2060.
Pasokan energi listrik di Sumbar sendiri, saat ini dipasok dari pembangkit-pembangkit PLN dengan daya mampu sebesar 787,45 MW dan beban puncak 642 MW. Masih ada cadangan daya pembangkit sebesar kira-kira 145,45 MW atau 22,66 persen.
“Pasokan daya yang cukup besar ini dapat digunakan untuk mendukung pembangunan atau pengembangan EBT di Sumbar. Demi peningkatan pasokan listrik bersumber EBT dari Sumbar,” jelas Eric.
Total pasokan 787,45 MW tersebut diatas, mayoritas bersumber dari pembangkit EBT yaitu sebesar 50,26% dari total seluruh pasokan. Pembangkit energi hijau di Sumbar terdiri dari PLTA, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMh), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg).
“PLN memproduksi energi hijau atau EBT sebesar 399,77 MW setiap bulannya dari total 16 pembangkit EBT. PLTA memproduksi listrik EBT terbesar yaitu hingga 252, 91 MW. Pasokan ini dapat terus bertambah seiring dengan rencana pembangunan pemerintah,” jelas Eric kemudian.
Semoga penghargaan ini dapat menjadi cambuk semangat untuk terus berkarya bagi pengembangan pemanfaatan energi hijau di Sumbar. Demi langit biru Sumbar dan demi mendukung transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. (rel) Editor : Novitri Selvia