PADEK.JAWAPOS.COM-Putu kambang, makanan tradisional khas Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), tetap menjadi favorit masyarakat hingga saat ini.
Terbuat dari ketan hitam, makanan ini sangat mudah ditemui di pasar-pasar tradisional di Pessel, terutama di Kenagarian Kambang, Kecamatan Lengayang, yang identik dengan nama putu kambang.
Makanan ini, yang dipadukan dengan gula aren, kelapa, dan daun pandan, juga bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional lainnya di Pessel, terutama saat hari pasar.
Keberadaannya yang terus diminati menjadikan putu kambang sebagai salah satu kekuatan ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di daerah tersebut.
Untuk mendukung perkembangan usaha, makanan ini sering dipromosikan dalam berbagai iven, baik di dalam maupun luar daerah.
Salah satu pelaku usaha makanan putu kambang yang masih tetap bertahan saat ini adalah Yarnis 60, warga Kampung Koto Baru, Nagari Kambang, Kecamatan Lengayang.
Saat dijumpai Padang Ekspres kemarin (5/2) dia mengatakan kue putu kambang hasil olahannya itu telah menjadi oleh-oleh favorit bagi pengunjung daerah tersebut.
“Usaha putu kambang sudah semakin berkembang di semua nagari dan hadir di hampir semua pasar tradisional,” ujarnya.
Biasanya makanan itu sangat dicari oleh masyarakat di saat bulan puasa. “Saya katakan demikian, karena di bulan puasa itu omzet penjualan bisa meningkat tajam lebih dari 100 persen dibanding hari-hari biasa seperti saat ini,” tuturnya.
Saat ini, harga satu bungkus putu kambang berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 8.000, dengan ukuran kecil enam buah seharga Rp 10.000 dan ukuran besar tiga buah seharga Rp 15.000. Meskipun tidak menggunakan pengawet, putu kambang dapat disimpan selama dua hari.
Dia menjelaskan, putu kambang terbuat dari adonan beras ketan merah dan putih, yang dicampur dengan kukusan kelapa setengah tua, serta gula aren.
Cara membuatnya, beras ketan merah atau putih yang sudah direndam selama satu malam ditumbuk dan dicampur dengan kukusan kelapa dan diaduk menjadi satu dengan pemanis yang terbuat dari gula aren.
“Adonan yang sudah menyatu ini kemudian dimasukan ke dalam bambu dengan ukuran panjang sekitar 20 cm dengan diameter 3 cm. Ketan yang sudah dipadatkan ke dalam bambu ini kemudian dipanaskan dengan menggunakan tungku yang sudah dilobangi sesuai ukuran mambu secara tegak berdiri. Agar tidak hangus, maka api yang berada di bawah tungku harus tetap terjaga ukurannya,”ungkap Yarnis.
Kue putu yang sudah masak itu, selanjutnya dikeluarkan dari ruas bambu dan dibungkus dengan menggunakan daun pisang.
“Keterampilan membuat kuliner tradisional putu kambang ini saya dapatkan secara turun temurun dari orang tua. Bagi saya ilmu ini saya tularkan kepada yang lain agar kuliner ini tetap ada dan terjaga sepanjang masa. Karena usaha ini juga bisa menjadi kekuatan ekonomi keluarga bagi yang berminat. Makanya kuliner ini sekarang sudah bisa dijumpai hampir di semua pasar tradisional yang ada di Pessel,” jelasnya.
Maria 42, pedagang kue putu kambang di Pasar Lakitan, Kecamatan Lengayang mengatakan lima tahun lalu kuliner putu kambang itu hanya bisa ditemui di Pasar Kambang dan Pasar Lakitan, Kecamatan Lengayang. Tapi sekarang sudah hampir bisa ditemui di semua pasar tradisional yang ada di Pesisir Selatan.
“Kalau ada yang berminat ingin mencicipi enaknya kuliner jenis kue putu kambang, maka datanglah ke Pesisir Selatan. Namun untuk bisa memastikan bisa langsung dapat, bisa datang langsung ke Pasar Kambang, Pasar Lakitan, atau ke Pasar Kamis di Kampung Kotobaru,” ujarnya.
Kalau dulunya, kata Maria yang berjualan kue putu kambang ini rata-rata sudah tua, sekarang tidak lagi.
“Saat ini setidaknya ada empat orang yang menyuguhkan kuliner putu kambang di Pasar Lakitan ini. Kami tidak perlu bersorak sorai meneriaki konsumen untuk membeli, sebab mereka sudah tahu. Selain itu makanan yang menggugah selera ini juga murah atau tidak mahal,” jelasnya.
Dia mengungkapkan, ada beberapa alasan kenapa makanan itu disebut dengan putu kambang sesuai dengan nama nagari. Pertama putu kambang adalah putu basah dengan aroma dan rasanya yang khas.
Tidak seperti putu jawa baik yang kering atau yang basah.
Kemudian putu kambang dibuat dengan tepung ketan hitam pilihan yang produk akhirnya tentu putu berwarna hitam.
Kemudian di dalamnya ada gula aren yang disebut luo. Luo dan perpaduan daun pandan yang terletak di tengah- tengahnya menjadikan makanan ini punya rasa tersendiri.
“Kedua, yang berbeda adalah kemasan putu. Jika putu jawa dikemas dengan kemasan berbahan plastik atau bahan pabrikasi lainnya, maka putu kambang dikujuik (dibalut, red) dengan daun pisang. Tak jarang pula orang menamainya putu kujuik. Artinya, setelah putu matang, putu dimasukkan ke dalam kemasan daun pisang lalu diikat ujung ke ujung,” jelasnya.
Putu kambang akan terasa nikmat di makan saat masih hangat. Perpaduan ketan hitam, gula dan daun pandannya terasa begitu pas dan menyatu. Apalagi bila makanan ini diselingi dengan minuman dingin bila siang hari atau minuman panas saat malam hari.
“Walau telah dingin, tidak akan mengurangi rasa khasnya karena dibungkus daun pisang, namun akan lebih baik lagi putu dipanaskan kembali, dengan demikian rasa putu akan sama seperti baru dimasak,” tutupnya. (YONI SYAFRIZAL—Pessel)
Editor : Novitri Selvia