Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Emas Melemah di Tengah Sinyal Trump Longgarkan Tarif Otomotif AS

Heri Sugiarto • Selasa, 29 April 2025 | 16:06 WIB

Harga emas dunia turun 0,9% pada perdagangan Selasa (29/4). (Foto ilustrasi: AI)
Harga emas dunia turun 0,9% pada perdagangan Selasa (29/4). (Foto ilustrasi: AI)
PADEK.JAWAPOS.COM-Harga emas dunia turun pada perdagangan Selasa (29/4) setelah muncul harapan bahwa Presiden AS Donald Trump akan melonggarkan dampak tarif otomotif, yang meredam permintaan terhadap aset aman.

Bloomberg melaporkan, harga emas untuk pengiriman segera (immediate delivery) tercatat turun 0,9% menjadi US$3.313,06 per ons pada pukul 13.53 waktu Singapura.

Penurunan ini terjadi setelah sempat jatuh hingga 1,2% ke posisi US$3.305,23 per ons, membalikkan kenaikan 0,7% pada sesi sebelumnya.

Pelemahan harga emas juga didorong oleh penguatan Indeks Dolar Bloomberg sebesar 0,2%, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Tekanan terhadap harga emas muncul setelah seorang pejabat Gedung Putih menyampaikan bahwa beberapa tarif atas suku cadang mobil asing akan dilonggarkan.

Menurut pejabat Gedung Putih, pemerintahan Trump akan mengurangi beban tarif otomotif mulai Selasa waktu setempat dengan meringankan sebagian bea masuk atas komponen mobil asing yang digunakan dalam produksi domestik, serta mencegah penerapan ganda tarif terhadap mobil impor.

Langkah ini ditujukan untuk mendukung pabrikan yang berkomitmen berinvestasi di dalam negeri.

“Presiden Trump sedang membangun kemitraan penting dengan produsen otomotif domestik dan para pekerja hebat Amerika,” kata Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, dalam pernyataan resmi, dilansir Reuters.

“Kesepakatan ini adalah kemenangan besar bagi kebijakan perdagangan Presiden karena memberi insentif kepada perusahaan yang memproduksi secara domestik, sekaligus memberi ruang bagi pabrikan yang ingin memperluas produksi di AS," jelasnya.

Mengutip The Wall Street Journal, perusahaan otomotif yang sebelumnya terkena bea tambahan seperti tarif baja dan aluminium juga akan menerima pengembalian bea yang telah dibayar.

Pernyataan ini memicu optimisme pasar bahwa ketegangan perdagangan global dapat mereda, sehingga mengurangi kebutuhan terhadap aset lindung nilai seperti emas.

Analis strategi riset di Pepperstone Group Ltd., Dilin Wu, mengatakan bahwa meski negosiasi perdagangan berlangsung lambat, kesediaan terbaru Gedung Putih untuk kembali terlibat dalam dialog telah menggeser sentimen pasar dari penjualan panik menjadi optimisme hati-hati, yang memberikan tekanan turun pada harga emas.

Namun, Wu juga menambahkan bahwa jika laporan tenaga kerja AS akhir pekan ini menunjukkan tanda-tanda pelemahan, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada Juni bisa meningkat, yang berpotensi mendorong harga emas kembali naik.

Di sisi lain, ketegangan antara AS dan China tetap tinggi. Diplomat tertinggi Tiongkok memperingatkan negara-negara lain untuk tidak menyerah pada tekanan tarif Presiden Trump.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa AS saat ini mengesampingkan Tiongkok dan menunggu langkah dari Beijing untuk memulai deeskalasi.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok pun membantah adanya pembicaraan aktif dengan Washington.

Meski demikian, emas telah mencatat kenaikan lebih dari 25% sepanjang tahun ini, didukung oleh kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global, tensi antara pemerintahan Trump dan The Fed, serta pembelian oleh bank sentral dan spekulasi di China.

Namun konsumsi fisik di pasar utama seperti Tiongkok mengalami penurunan.

Selain emas, harga logam lainnya seperti perak dan paladium juga mengalami penurunan, sementara platinum tercatat stabil.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#emas dunia #emas spot #harga emas turun #Data Ekonomi AS #tarif otomotif AS #Tarif Trump #pasar global #harga emas hari ini #dollar as