Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dimas Batik, Penjaga Terakhir Batik Tulis Tasikmalaya yang Setia pada Goresan Malam

Hendra Efison • Kamis, 15 Mei 2025 | 13:01 WIB

Aisha Nadia owner Dimas Batik di Tasikmalaya, tetap memilih lilin karena setiap goresan malam adalah jejak sejarah yang tak tergantikan.
Aisha Nadia owner Dimas Batik di Tasikmalaya, tetap memilih lilin karena setiap goresan malam adalah jejak sejarah yang tak tergantikan.
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tengah gempuran teknologi printing dan modernisasi industri batik, sebuah nama di sudut Tasikmalaya justru memilih untuk bertahan dengan lentera tradisi.

Dimas Batik, UMKM milik Aisha Nadia, menjadi satu-satunya pengrajin batik tulis di Tasikmalaya yang masih setia menggunakan malam atau lilin panas dalam setiap proses pembuatannya.

Di Indihiang, tempat galeri Dimas Batik berdiri sejak 1987, sejarah terus ditulis ulang melalui setiap goresan tangan.

“Setiap coretan malam adalah warisan. Kami bukan hanya menjual kain, tapi mewariskan budaya,” ujar Aisha, sosok di balik eksistensi Dimas Batik yang kini mempekerjakan 25 pembatik.

Lima belas di antaranya bekerja di galeri pusat, sementara 10 lainnya adalah ibu rumah tangga yang membatik dari rumah.

“Kami ingin mempertahankan tradisi, tapi juga memberi ruang bagi ibu-ibu agar bisa tetap produktif tanpa meninggalkan peran utama mereka di rumah,” tambahnya.

Perjalanan Aisha tidak mulus. Ia mengenang saat awal merintis usaha, harus membawa karung berisi kain batik ke calon pembeli, bahkan pernah diusir satpam karena dikira pemulung.

“Saya tahu yang saya bawa adalah warisan budaya yang tak ternilai, meski tak semua orang melihatnya demikian,” kenang Aisha dengan senyum.

Pada akhir 2019, dua bulan sebelum pandemi COVID-19 melanda, Dimas Batik mendapat suntikan dana sebesar Rp50 juta dari program pendanaan UMK Pertamina.

Dana tersebut digunakan untuk membeli tanah di pinggir jalan yang kini menjadi galeri permanen mereka. Tak disangka, pandemi justru membuka peluang baru.

Permintaan melonjak dari desainer-desainer ternama di Bandung dan Jakarta yang mencari batik eksklusif untuk pejabat dan selebriti nasional.

Dimas Batik pun berkembang pesat. Produknya dipasarkan hingga ke Jakarta, Bandung, dan kota-kota di Pulau Jawa, serta menembus pasar internasional seperti Singapura dan Jepang.

“Orang Jepang menyukai motif kami yang lembut seperti sakura, melati, dan truntum. Mereka tidak terlalu suka motif hewan, jadi kami menyesuaikan tanpa meninggalkan jati diri,” jelas Aisha.

Berbagai pelatihan pun diikuti Aisha demi memperluas sayap usahanya. Di tahun 2024, Dimas Batik terpilih mengikuti kelas Go Global dalam program Pertamina UMK Academy, sebagai langkah menuju pasar ekspor yang lebih luas.

Motif-motif batik khas Jawa Barat yang ditawarkan Dimas Batik tak hanya indah, namun sarat makna. Sebut saja Merak Ngibing, yang mengekspresikan kemegahan dan dinamika hidup lewat warna-warna cerah. 

Tiga Negeri, perpaduan pengaruh budaya Jawa, Pekalongan, dan Lasem yang menggambarkan keharmonisan; Cupat Manggu, terinspirasi buah manggis dengan pola organik yang segar; dan Sidomukti, simbol kemakmuran yang lekat dalam upacara adat dan pernikahan.

Dimas Batik bukan sekadar usaha batik, tapi sebuah perjuangan mempertahankan identitas budaya di tengah arus zaman. Di saat banyak memilih kecepatan dan instan, Aisha tetap memilih lilin. Karena baginya, di balik setiap goresan malam, ada sejarah, ada cerita, ada jiwa.(*)

Editor : Hendra Efison
#Batik Tulis Tasikmalaya #Dimas Batik #Batik Asli Tasikmalaya