Kenaikan harga emas dunia ini dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif terhadap Uni Eropa dan dolar AS mengalami pelemahan.
Harga emas di pasar spot tercatat naik 1,6% menjadi US$3.345,99 per ons troi pada pukul 20.52 WIB, setelah sebelumnya menyentuh kenaikan hingga 2% di awal sesi perdagangan.
Secara mingguan, harga emas telah meningkat 4,5% dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Kontrak emas berjangka AS juga turut naik 1,6% ke level US$3.346,60 per ons troi.
"Trump kembali membuat gebrakan dalam 24 jam terakhir. Ia mengancam akan memberlakukan tarif 50% terhadap Uni Eropa mulai 1 Juni, menekan Apple, dan menyudutkan Harvard. Hal ini membuat pasar saham muram dan menjadi angin segar bagi emas," jelas Tai Wong, analis dan pedagang logam independen, dilansir Reuters.
Menurut Wong, kekhawatiran atas kebijakan tarif yang kembali mencuat pada hari perdagangan yang sepi menjelang akhir pekan panjang turut memperbesar volatilitas harga.
Pasar saham global tertekan tajam pada Jumat setelah Trump mengejutkan pasar dengan usulan tarif 50% terhadap impor dari Uni Eropa yang akan diberlakukan mulai 1 Juni.
Selain itu, Trump juga menyatakan bahwa Apple akan dikenai tarif 25% untuk iPhone yang dijual di AS namun tidak diproduksi di dalam negeri.
Sementara itu, dolar AS melemah 0,6%, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga meningkatkan daya tariknya.
Di sisi lain, DPR AS yang dikuasai Partai Republik pada Kamis kemarin menyetujui rancangan undang-undang besar terkait pajak dan belanja negara yang mencerminkan sebagian besar agenda kebijakan Trump. Paket kebijakan ini berpotensi menambah triliunan dolar utang bagi Amerika Serikat.
Harga emas cenderung menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi karena fungsinya sebagai aset lindung nilai (safe haven).(*)
Editor : Heri Sugiarto