Tongkol jagung yang selama ini dianggap limbah tak bernilai, kini diolah menjadi media tanam jamur hasil fermentasi. Inovasi tersebut mereka namakan Jamur Janggel, merujuk pada kata ”janggel” dalam bahasa Minang yang berarti tongkol jagung.
Sejak awal Juli 2025, para mahasiswa lintas jurusan ini mengamati permasalahan klasik di daerah tersebut, yakni limbah pertanian jagung yang menumpuk. Setiap musim panen, petani menghasilkan berton-ton tongkol jagung kering yang biasanya hanya dibakar atau dibuang.
”Kami berpikir, kenapa tidak dimanfaatkan saja? Tongkol jagung memiliki serat tinggi dan bisa menjadi media tanam alternatif,” ujar Ilham, Koordinator Program Inovasi dari Fakultas Pertanian Unand, Selasa (12/8).
Melalui uji coba di laboratorium lapangan, mereka berhasil membudidayakan jamur tiram menggunakan media tongkol jagung yang dicacah dan difermentasi. Hasilnya, jamur tumbuh cepat dengan kualitas setara media serbuk kayu biasa.
Inovasi ini mendapat respons positif dari warga setempat. ”Beberapa petani mulai tertarik mempelajari teknik budidaya Jamur Janggel. Harapannya, pemanfaatan limbah ini bisa menghasilkan komoditas sayuran jamur yang bernilai jual,” tutur Ilham.
Penjabat Wali Nagari Lubuk Gadang Tenggara mengaku bangga atas kontribusi mahasiswa. ”Mereka datang bukan sekadar menjalani KKN, tapi membawa solusi nyata. Program ini mengurangi dampak lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru,” ujarnya.
Tak hanya membudidayakan jamur, mahasiswa juga melatih warga membuat produk olahan seperti keripik dan sate jamur yang siap dipasarkan. Beberapa UMKM bahkan mulai mengemas Jamur Janggel dalam kemasan vakum untuk dijual ke Padang dan Payakumbuh.
Langkah kecil ini mulai menginspirasi nagari tetangga untuk memanfaatkan limbah pertanian menjadi peluang ekonomi.
”Ini bentuk sinergi mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah. Kami berharap program ini berlanjut meski KKN usai, bahkan menjadi model percontohan di Sumbar,” kata Sahrizal, salah seorang tokoh masyarakat.
Bagi mahasiswa Unand, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendidikan tak hanya berlangsung di ruang kuliah, tetapi juga hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan.
”Siapa sangka, dari tongkol jagung yang dulu dibuang, kini lahir Jamur Janggel, simbol kebangkitan ekonomi berbasis lokal,” pungkas Ilham. (*)
Editor : Eri Mardinal