
Oleh: Krismadinata, Director of Centre for Energy and Power Electronics Research, Universitas Negeri Padang (UNP).
PADEK.JAWAPOS.COM-Jumat malam (22/5/2026) kemarin, jutaan warga hampir seluruh provinsi di pulau Sumatera dipaksa kembali akrab dengan kegelapan. Tanpa ada maklumat atau tanda-tanda awal, aliran listrik mendadak lenyap.
Dalam hitungan sekedipan mata, kenyamanan rumah tangga terenggut. Roda jualan di kedai-kedai kelontong yang sedang menggeliat terpaksa gulung tikar lebih cepat, dan jaringan komunikasi seluler yang menjadi penyambung hidup masyarakat modern perlahan sunyi.
Sebagai bagian dari warga yang ikut merasakan langsung dampak pemadaman massal (blackout) ini, kita sangat memaklumi jika gelombang dongkol dan jengkel seketika tumpah di media sosial.
Hari gini, listrik bukan lagi sekadar fasilitas pelengkap atau pemanis dekorasi kota. Listrik telah menjelma menjadi energi kehidupan, oksigen bagi urat nadi perekonomian, dan pilar utama yang menopang seluruh produktivitas harian kita. Ketika ia padam, ritme peradaban seolah dipaksa berhenti berputar.
Insiden ini secara otomatis membuka kembali kotak memori kolektif kita pada Juni 2024 silam. Kala itu, kerusakan pada jalur transmisi Lubuk Linggau-Lahat melumpuhkan hampir seluruh Pulau Sumatera hingga puluhan jam.
Namun, ada satu hal yang perlu kita dudukkan dengan jernih secara ilmiah: anatomi masalah kali ini berbeda. Jika dua tahun lalu lumpuhnya sistem murni disebabkan oleh kendala teknis internal, peristiwa kemarin menyajikan persoalan yang berbeda. Ini adalah pertarungan abadi antara infrastruktur buatan manusia melawan dahsyatnya anomali fenomena alam.
Berdasarkan data kronologi resmi di lapangan, episentrum kendala terdeteksi pada jalur transmisi utama tegangan tinggi 275 kiloVolt (kV) di wilayah Muara Bungo – Sungai Rumbai, Jambi.
Malam itu, kawasan tersebut disebut sedang dihantam cuaca ekstrem yang luar biasa buruk. Hujan lebat berguyur deras, angin kencang menerpa, dan intensitas badai petir berada pada level tertinggi.
Seketika muncul pertanyaan yang sangat logis dari masyarakat awam: bagaimana mungkin sebuah infrastruktur raksasa setinggi puluhan meter, yang dibangun dengan biaya investasi triliunan rupiah, bisa langsung tak berdaya hanya karena faktor cuaca?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





