Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pemerintah tak Berencana Perpanjang Insentif EV Impor, Dorong Pabrikan Mulai Penuhi Aturan Penggunaan Komponen Lokal

Eri Mardinal • Rabu, 27 Agustus 2025 | 07:00 WIB

 

Mobil lBYD Atto 1 pada pameran GIIAS 2025 di Jakarta akhir bulan lalu. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, pabrikan asal Tiongkok itu menjadi peserta skema CBU dengan komitmen investasi.
Mobil lBYD Atto 1 pada pameran GIIAS 2025 di Jakarta akhir bulan lalu. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, pabrikan asal Tiongkok itu menjadi peserta skema CBU dengan komitmen investasi.
PADEK.JAWAPOS.COM-Pemerintah belum punya rencana memperpanjang insentif mobil listrik alias electric vehicle (EV) impor dalam bentuk utuh (completely built up/CBU). Pemberian insentif dilakukan dalam rangka tes pasar komitmen investasi. Hal itu sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Investasi Nomor 6 Tahun 2023 jo. Nomor 1 tahun 2024.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kemenperin Mahardi Tunggul Wicaksono menegaskan, sampai saat ini, belum ada rapat antar-kementerian terkait kelanjutan insentif BEV impor. ”Insentif EV impor akan berakhir pada akhir 2025, sesuai regulasi yang ada,” ujar Tunggul di Jakarta kemarin (26/8).

Tunggul mengatakan dengan kondisi itu, maka para produsen bisa mulai memenuhi syarat TKDN (tingkat komponen dalam negeri) mulai tahun depan. ”Mulai Januari 2026 sampai Desember 2027 perusahaan harus memenuhi komitmen produksi 1:1. Dalam perjalanannya juga, perusahaan juga harus memperhatikan nilai, besaran nilai TKDN. Dari 40 persen harus secara bertahap naik menjadi 60 persen besaran nilai TKDN,” ujar Tunggul.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), peserta skema CBU dengan komitmen investasi adalah BYD, Aion, Maxus, Vinfast, Geely, Citroen, VW, Xpeng, dan Ora. Lalu, peserta skema produksi sesuai TKDN antara lain Wuling, Chery, Aion, Hyundai, MG, dan Citroen.

Tekan Industri Eksis   

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengakui, insentif EV impor dalam rangka tes pasar sukses meningkatkan adopsi mobil ini di Indonesia. Tetapi, hal itu menekan kinerja industri yang sudah lama eksis.

Gaikindo mencatat, utilisasi industri mobil turun dari 73 persen menjadi 55 persen tahun ini. Itu seiring turunnya penjualan mobil domestik. Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai harus ada kebijakan untuk menciptakan keseimbangan industri otomotif. Intinya, insentif yang dirilis harus menggerakkan semua pemain otomotif, entah itu hybrid, EV, dan ICE  hingga industri komponen.

Kehadiran EV impor menekan produksi mobil dalam negeri dengan TKDN tinggi, berkisar 80-90 persen. Itu artinyamengganggu keseimbangan industri. ”Banyak perusahaan komponen juga mengeluh, karena suplai ke pabrikan kurang. Untung mereka masih ada ekspor, sehingga masih bisa berjalan, tetapi ada sebagian yang sudah melakukan PHK,” ujar Kukuh. (*)

 

Editor : Eri Mardinal
#kemenperin #EV Impor #insentif mobil listrik