Kenaikan ini dipicu melemahnya data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada rapat pekan depan.
Harga emas spot naik 1,5 persen menjadi USD 3.639,43 per ounce pada pukul 12.00 waktu New York atau 23:00 WIB. Logam mulia tersebut sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di USD 3.646,29 per ounce.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,7 persen menjadi USD 3.680,30.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant mengatakan harga emas berpotensi melanjutkan penguatan ke kisaran USD 3.700–USD 3.730 dalam jangka pendek.
Ia menilai kondisi pasar tenaga kerja AS yang melemah dan peluang pemangkasan suku bunga The Fed hingga awal 2026 akan menjadi faktor utama penopang harga emas.
Laporan ketenagakerjaan AS pada Agustus menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat signifikan.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan 88 persen peluang The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, dengan 12 persen peluang pemangkasan yang lebih besar, yaitu 50 basis poin.
Suku bunga rendah biasanya meningkatkan daya tarik emas, karena menurunkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia.
Kinerja Emas Sejak 2024
Harga emas dunia sudah naik 38 persen sepanjang 2025, setelah sebelumnya menguat 27 persen pada 2024.
Faktor yang mendorong reli harga emas meliputi pelemahan dolar AS, akumulasi emas oleh bank sentral, kebijakan moneter longgar, dan meningkatnya ketidakpastian global.
Bank Sentral China memperpanjang tren pembelian emas selama 10 bulan berturut-turut hingga Agustus 2025, menurut data resmi yang dirilis pada Minggu (7/9).
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di dekat posisi terendah dalam lima bulan terakhir.(*)
Editor : Heri Sugiarto