Salah satunya adalah Rahmat (23), pemuda yang setiap hari meracik kopi di balik gerobak sederhana di sudut jalan yang ramai.
Meski bukan pemilik usaha, Rahmat menjadi "barista" jalanan yang mewakili semangat generasi muda dalam memilih produktif di tengah keterbatasan.
Ia bekerja di sebuah perusahaan kopi lokal yang mengusung konsep penjualan langsung ke konsumen melalui gerobak keliling.
Dua varian minuman favorit yang ia jajakan adalah kopi aspal seharga Rp10.000 dan kopi susu Rp12.000.
Harga yang terjangkau dengan cita rasa tetap terjaga membuat kopi Rahmat diminati, terutama oleh mahasiswa dan anak muda.
“Paling ramai itu pagi dan sore hari. Banyak anak kuliah mampir, mereka suka karena harganya pas di kantong tapi rasa tetap enak,” ujar Rahmat, ketika dijumpai Senin (22/9/2025) lalu.
Dalam sehari, Rahmat mampu menjual 50 hingga 60 gelas kopi. Pendapatan kotor yang dihasilkan lebih dari Rp600.000 per hari, angka yang cukup stabil untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus memberi pengalaman berharga dalam dunia kerja.
Gerobak Ekonomi Kerakyatan
Konsep “jualan langsung ke jalan” yang diterapkan perusahaan tempat Rahmat bekerja tidak hanya menjadi strategi pemasaran, melainkan juga misi sosial.
Dengan merekrut pemuda yang belum memiliki pekerjaan tetap, perusahaan ini ikut berkontribusi mengurangi angka pengangguran di Padang.
Keberadaan Rahmat dan rekan-rekan seprofesinya di berbagai titik kota menjadi bukti bahwa usaha mikro bisa memberi dampak besar bagi masyarakat.
Dari gerobak kopi sederhana, anak-anak muda membangun kemandirian, memperluas jaringan sosial, dan menumbuhkan mimpi.
Usaha kecil ini menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan tidak selalu lahir dari kantor atau gedung bertingkat. Justru dari pinggir jalan, lahir semangat baru ekonomi kerakyatan yang hidup di tengah masyarakat.
Kopi dan Harapan Anak Muda
Dalam setiap gelas kopi yang disajikan Rahmat, tersimpan lebih dari sekadar rasa. Ada semangat, kerja keras, dan cita-cita anak muda yang berusaha berdiri di atas kaki sendiri.
Kopi jalanan bukan sekadar bisnis pinggir jalan. Ia adalah simbol perjuangan dan harapan generasi muda untuk mandiri serta ikut menggerakkan ekonomi kota.(bintan lestari/magang upgrisba)
Editor : Hendra Efison