Phintraco Sekuritas menilai aksi profit taking, depresiasi rupiah, indeks manufaktur, dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor utama pergerakan IHSG. Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menyebutkan, secara teknikal indikator stochastic RSI bergerak ke arah pivot setelah mengalami death cross. Histogram MACD mulai melemah meskipun masih di area positif.
Meskipun demikian, IHSG mampu bertahan di atas level MA5. ”Kami memprediksi IHSG bergerak pada kisaran level 7.980-8.170,” ucap Valdy kemarin (28/9).
Pada pekan ini, imbuh dia, investor akan mencermati indeks manufaktur Indonesia, neraca perdagangan, dan inflasi. Sedangkan dari Amerika Serikat, pasar bakal menantikan data manufaktur, sektor jasa, serta data pasar tenaga kerja seperti ADP Employment, nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran untuk menilai indikasi kesehatan ekonomi AS, serta prospek penurunan suku bunga The Fed berikutnya.
Sementara itu, tim riset MNC Sekuritas melihat peluang penguatan IHSG masih terbuka pada pekan ini. ”Best case masih terdapat peluang penguatan bagi IHSG ke rentang 8.200–8.246. Namun, IHSG masih rawan terkoreksi paling tidak untuk menguji 7.894–7.959 dahulu,” tulis laporan tim riset.
Tekanan rupiah dan aliran dana asing berpotensi menahan laju penguatan, namun dukungan fundamental ekonomi Indonesia serta minat investor pada saham-saham tertentu dapat memberi ruang bagi indeks untuk kembali mencoba menembus level 8.200.
Sedangkan, perdagangan sepanjang pekan lalu, IHSG naik 0,6 persen dari level 8.051 pada pekan sebelumnya ke 8.099,33 di Jumat (26/9). Bahkan, indeks sempat memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Rabu (24/9) dengan ditutup di level 8.126. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pun meningkat 1,74 persen menjadi Rp14.888 triliun.
”Dari sisi transaksi, rata-rata frekuensi harian naik 15,56 persen menjadi 2,45 juta kali, sedangkan volume melonjak 12,08 persen menjadi 47,07 miliar lembar saham. Namun, rata-rata nilai transaksi harian sedikit tertekan sebesar 1,25 persen ke Rp 28,19 triliun,” papar Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad. (*)
Editor : Eri Mardinal