Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, langkah tersebut memungkinkan Pupuk Indonesia menekan biaya produksi sehingga harga pupuk subsidi dan non subsidi bagi petani tetap terjangkau.
”Ke depan kami akan melakukan revitalisasi, karena pabrik-pabrik kami sudah tua. Kami sudah lama tidak melakukan pembangunan pabrik. Untuk merevitalisasi itu butuh Rp 54 triliun, tapi tetap akan kami lakukan,” ujar Rahmad, kemarin (28/9).
Rahmad mencontohkan, dari 15 pabrik urea, 8 di antaranya sudah beroperasi lebih dari 30 tahun. Jika konsumsi gas untuk produksi per ton urea dibandingkan dengan pabrik baru, efisiensinya setara dengan penghematan biaya produksi sekitar Rp 1,5 triliun per tahun. ”Untuk Urea saat ini rasio konsumsi energi kami tinggi sekali, rata-rata rasio konsumsi gas itu adalah 28 MMBTU per ton urea,” kata Rahmad.
Karena itu, revitalisasi industri pupuk menjadi langkah kunci Pupuk Indonesia untuk menjawab tantangan kondisi pabrik yang sudah tua dan tidak efisien tersebut.
Melalui revitalisasi, konsumsi gas di Pupuk Indonesia Grup diproyeksikan dapat ditekan menjadi 25 MMBTU per ton Urea pada 2035. Efisiensi ini akan mampu menurunkan biaya produksi, sekaligus memungkinkan Pupuk Indonesia menyediakan pupuk dengan harga lebih terjangkau bagi petani.
”Kami sedang membangun satu pabrik bernama Pusri IIIB yang akan menggantikan pabrik yang sudah tua. Keberadaan pabrik ini akan menjadikan Pusri sebagai perusahaan pupuk tertua, tetapi dengan rata-rata umur pabrik yang paling muda dan paling efisien,” pungkas Rahmad. (*)
Editor : Eri Mardinal