Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Abdul Majid Ikram dalam media briefing di Kantor BI Sumbar Jalan Sudirman, Selasa (30/9). Hadir Kepala Dinas Pangan Sumbar Iqbal Ramadi Payana, Kepala Bulog Sumbar R Darma Wijaya dan Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang, Alfiadi.
Disampaikan, berdasar data BI Sumbar, rentang Agustus hingga September, harga beras medium dari Rp 17.150 menjadi Rp 17.100 per kilogram. Kemudian gula pasir turun dari Rp 18.450 menjadi Rp 18.350 per kilogram. Minyak goreng dari Rp 20.950 menjadi Rp 20.900 per liter. Selanjutnya, bawang merah dari Rp 56.500 turun menjadi Rp 33.000 per kilogram.
Sementara cabai merah memang tak bisa dikendalikan harganya. Karena pasokan dari daerah penghasil atau petani memang sedikit. Harga cabai sejak pertengahan Agustus berada di kisaran Rp 37.750 terus naik jadi Rp 83.500 per 26 September 2025. Bahkan di sejumlah daerah harga cabai sudah tembus Rp 100 ribu per kilogram seperti di Bukittinggi dan Sijunjung.
”Alhamdulillah harga beras sudah mulai turun walaupun masih sedikit. Karena isu beras ini kencang sekali bukan hanya di Sumatera Barat tapi juga nasional. Terutama karena oplosan sehingga harga masih tinggi. Tapi Alhamdulillah ini sudah turun. Memang harga beras solok masih tinggi. Tapi karena tinggi masyarakat mulai beralih ke beras SPHP. Kemudian beberapa komoditas seperti minyak goreng dan gula juga sudah turun. Cuma cabai masih bertahan relatif tinggi karena secara nasional produksi cabai sedang kurang bagus,” ujar Majid.
Majid mengatakan, untuk jangka pendek, pihaknya terus bersinergi dengan stakeholder terkait untuk mendorong agar harga pangan stabil dan turun. ”Insya Allah gerakan pangan murah akan terus dilakukan sampai harga benar-benar terkendali,” ujarnya.
Tapi untuk jangka panjang perlu menggalakkan penanaman cabai di Sumbar untuk pemenuhan kebutuhan lokal. Pihaknya akan mencoba bekerjasama dengan dinas pertanian untuk komoditas cabai merah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Sumbar Ramadi Payana mengakui, saat cabai merah mengalami lonjakan yang cukup tajam. Disebabkan salah satunya virus yang menyerang tanaman cabai. Tidak hanya di Sumbar tapi juga seluruh Indonesia. ”Hal ini menyebabkan harga cabai naik mencapai Rp 100 ribu per kilogram, bervariasi di kabupaten kota seluruh Sumatera Barat,” ujarnya.
Untuk membantu masyarakat mendapatkan harga cabai terjangkau Dinas Padang bersama BI Sumbar dan Bulog melaksakan operasi pasar cabai Minggu (28/9) lalu di CDF depan kantor gubernur. 700 kilogram cabai merah ludes diborong warga. ”Kita pesan dua ton dari Magelang Jawa Tengah tapi hanya dapat 700 kilogram,” ujarnya.
Iqbal menambahkan, dalam menjaga harga kebutuhan pangan agar tidak terjadi inflasi, GPM masih terus dilakukan. Sejak Januari hingga September 2025, GPM melalui mobil keliling dari Toko Tani Indonesia Center (TTIC) sudah melakukan 720 kali kegiatan. Kemudian GPM ke kabupaten/kota sesuai permintaan telah dilaksanakan 46 kali. ”Kami terus lakukan GPM. Apalagi jelang pergantian tahun,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bulog Divre Sumatera Barat R. Darma Wijaya mengatakan jumlah distribusi beras SPHP hampir mencapai 10 ribu ton.
Pihaknya terus memantau perkembangan harga pangan di pasaran. Darma menyatakan, Bulog siap untuk terus mensupport operasi pasar murah seperti beras, gula pasir, minyak goreng dan lainnya.
Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang, Alfiadi mengatakan GPM menjangkau 104 kelurahan di Padang. Pelaksanaan akan terus dilangsungkan hingga Desember mendatang. Selain menyediakan beras, minyak goreng, gula pasir, telur ayam, cabai dan lainnya. Pihaknya berterima kasih dukungan transportasi dari BI Sumbar. (*)
Editor : Eri Mardinal