Dalam riset yang dirilis pada Jumat (17/10), HSBC menyatakan reli bullish emas masih akan berlanjut hingga pertengahan 2026. Kenaikan harga disebut didorong oleh ketidakpastian ekonomi global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral.
Pada Kamis (16/10), harga emas spot sempat menembus USD4.300 per ons — rekor tertinggi sepanjang sejarah — sekaligus mencatatkan pekan terkuat sejak Desember 2008.
“Pasar bullish kemungkinan akan terus menekan harga lebih tinggi hingga paruh pertama 2026, dan kami memperkirakan harga dapat mencapai USD5.000 per ons pada periode tersebut,” tulis HSBC dalam laporannya.
Bank asal Inggris itu juga menaikkan proyeksi rata-rata harga emas 2025 menjadi USD3.455 per ons dari sebelumnya USD3.355. Untuk tahun 2026, proyeksi rata-rata direvisi naik menjadi USD4.600 per ons dari estimasi sebelumnya USD3.950.
HSBC menilai kenaikan harga emas ditopang oleh risiko geopolitik, ketidakpastian kebijakan ekonomi, serta meningkatnya utang publik global.
Namun, bank tersebut juga memperingatkan adanya potensi volatilitas signifikan dan moderasi harga pada paruh kedua 2026, seiring perubahan kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi, dan dinamika geopolitik.
“Berbeda dengan reli sebelumnya, kami percaya banyak pembeli baru akan tetap bertahan di pasar emas, bukan hanya karena potensi apresiasi harga, tetapi juga karena perannya sebagai aset diversifikasi dan tempat aman,” tulis HSBC.
Sebelumnya, analis MarketPulse by OANDA, Zain Vawda, juga memperkirakan harga emas berpotensi menembus USD5.000 per ons. Ia menilai pergerakan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada arah kebijakan suku bunga menuju 2026 serta perkembangan hubungan AS–China.
“Jika hubungan kedua negara terus memburuk tanpa kesepakatan, itu bisa menjadi pemicu emas menembus level USD5.000 per ons,” ujar Vawda, dikutip dari Reuters.
Selain HSBC, Bank of America dan Societe Generale juga memproyeksikan harga emas dapat mencapai USD5.000 per ons pada 2026.(*)
Editor : Heri Sugiarto