Menurut Jefri, tata kelola yang baik terhadap komoditas perkebunan, khususnya gambir, dapat menjadi pendorong signifikan pertumbuhan ekonomi Sumbar.
Ia menyebutkan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat kunjungan kerja ke Sumbar sebelumnya juga menegaskan bahwa gambir harus menjadi komoditas ekspor unggulan daerah.
“Hilirisasi perkebunan mendesak dilakukan agar perputaran uang di Sumbar semakin besar. Kalau dikelola baik, gambir bisa terbangkan pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Jefri Nedi dalam keterangan kepada wartawan di Padang, Rabu (29/10/2025).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 21,37 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbar.
Dari sektor tersebut, komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao, tebu, dan gambir menjadi penyumbang utama nilai ekspor serta penyedia lapangan kerja.
Komoditas Perkebunan Andalan Sumbar
Jefri menjelaskan, kelapa sawit merupakan penyumbang terbesar dengan luas lahan sekitar 400 ribu hektare yang tersebar di Pasaman Barat, Dharmasraya, dan Solok Selatan.
Sementara itu, karet banyak diusahakan di Agam, Pasaman, dan Limapuluh Kota, sedangkan kakao dikembangkan di Padang Pariaman, Pesisir Selatan, dan Solok.
“Gambir Sumbar menjadi produsen terbesar dunia, sekitar 80–90 persen ekspor gambir Indonesia berasal dari Sumbar, terutama dari Limapuluh Kota dan Payakumbuh,” ungkapnya.
Selain itu, komoditas kopi arabika dari Gayo Solok Selatan dan Agam juga mulai diminati pasar domestik dan ekspor.
Menurutnya, penguatan sektor perkebunan akan memberi dampak besar terhadap ekonomi pedesaan karena sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari aktivitas perkebunan.
“Perputaran hasil panen menjadi sumber penghasilan harian hingga periodik. Uang beredar di pasar desa, koperasi, hingga UMKM lokal,” kata Jefri.
Dorongan Infrastruktur dan Tantangan Global
Jefri menambahkan, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur di wilayah perkebunan seperti jalan, jembatan, listrik, dan pasar untuk memudahkan konektivitas antarwilayah produksi.
Ia juga menyoroti kontribusi ekspor gambir, kopi, kakao, dan minyak sawit mentah (CPO) ke India, China, Pakistan, dan Eropa yang berperan dalam menyeimbangkan neraca perdagangan daerah.
Meski demikian, sektor ini masih menghadapi tantangan, antara lain fluktuasi harga komoditas dunia, rendahnya produktivitas kebun rakyat, alih fungsi lahan, serta kurangnya hilirisasi produk.
“Banyak hasil perkebunan dijual mentah, belum diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti minyak sawit olahan atau cokelat,” jelasnya.
Strategi Dongkrak Ekonomi Sumbar
Jefri menilai percepatan pertumbuhan ekonomi Sumbar dapat dicapai melalui hilirisasi perkebunan dan perikanan, pengembangan pariwisata berbasis budaya dan alam, peningkatan infrastruktur konektivitas, serta investasi di bidang energi terbarukan dan industri pengolahan.
“Diaspora Minang juga perlu diaktifkan sebagai motor modal dan penetrasi pasar global,” tutupnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto