Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Emas Bangkit di Asia Setelah The Fed Pangkas Suku Bunga dan Pertemuan Trump–Xi Jinping

Heri Sugiarto • Kamis, 30 Oktober 2025 | 21:19 WIB

Harga emas dunia naik usai empat hari melemah, dipicu pemangkasan suku bunga The Fed dan kabar dari pertemuan Trump–Xi. (Foto ilustrasi: AI Gemini)
Harga emas dunia naik usai empat hari melemah, dipicu pemangkasan suku bunga The Fed dan kabar dari pertemuan Trump–Xi. (Foto ilustrasi: AI Gemini)
PADEK.JAWAPOS.COM—Harga emas dunia menguat pada perdagangan Asia, Kamis (30/10), setelah empat hari berturut-turut mengalami penurunan. Kenaikan ini didorong oleh keputusan Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan serta ketidakjelasan hasil pertemuan antara mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Pada pukul 13.51 WIB, harga spot gold naik 1 persen menjadi USD 3.967,03 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS (U.S. Gold Futures) turun 0,4 persen ke USD 3.983,10 per ounce.

Sebelumnya, emas sempat anjlok ke posisi terendah tiga pekan akibat aksi ambil untung dan berkurangnya permintaan aset aman.

The Fed Pangkas Suku Bunga, Dolar AS Melemah

The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 poin menjadi kisaran 3,75–4,00 persen sesuai ekspektasi pasar. Langkah ini sempat menekan dolar AS dan mendorong harga emas, meski kenaikan logam mulia tersebut terbatas.

Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa kemungkinan penurunan suku bunga lanjutan pada Desember “belum dapat dipastikan”, pernyataan yang menahan optimisme pelaku pasar terhadap siklus pelonggaran yang lebih panjang.

Pertemuan Trump–Xi di Busan Belum Hasilkan Kesepakatan Konkret

Dari sisi geopolitik, pasar juga menyoroti hasil pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Busan, Korea Selatan, pada Rabu (29/10). Trump menyebut pertemuan tersebut “luar biasa” dan mengatakan kedua negara sepakat memangkas tarif impor AS terhadap barang-barang China dari 57 persen menjadi 47 persen.

Selain itu, Trump menyebut China akan kembali membeli kedelai asal AS dalam jumlah besar dan melonggarkan pembatasan ekspor mineral tanah jarang.

Namun, belum ada rincian konkret mengenai kesepakatan tersebut, termasuk isu semikonduktor dan ekspor pertanian. Kondisi ini membuat pasar menunggu kepastian lebih lanjut sebelum menilai arah hubungan dagang kedua negara.

Ketidakpastian kebijakan perdagangan tersebut, bersamaan dengan langkah dovish The Fed, membantu mendorong harga emas dari posisi terendah di bawah USD 3.900 per ounce.

Pasar Logam Campuran, Tembaga Turun Setelah Rekor Tertinggi

Sementara itu, pergerakan logam lainnya tercatat bervariasi. Kontrak berjangka perak turun 0,7 persen ke USD 47,605 per ounce, sedangkan platinum futures naik 0,7 persen ke USD 1.594,80 per ounce.

Harga tembaga di London Metal Exchange (LME) turun 1,3 persen menjadi USD 11.019,20 per ton, sementara kontrak tembaga AS melemah 0,7 persen ke USD 5,17 per pon. Sebelumnya, tembaga sempat menyentuh rekor USD 11.200,4 per ton pada Rabu (29/10).

Baca Juga: Gun Sugianto Terpilih Pimpin DEKOPIN Sumbar 2025–2030, Siap Hidupkan Kembali Semangat Koperasi Rakyat

Analis ING menyebut kenaikan harga tembaga dalam beberapa waktu terakhir didorong gangguan pasokan global, termasuk pernyataan force majeure oleh Freeport di tambang Grasberg, Indonesia, serta meningkatnya sentimen positif pasar menjelang pertemuan Trump-Xi.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#harga emas #dolar as #Pasar Logam Mulia #Pertemuan Trump dan Xi Jinping #suku bunga #the fed