Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Emas dan Minyak Melemah, Dolar AS Menguat Setelah Risiko Geopolitik Mereda

Heri Sugiarto • Jumat, 16 Januari 2026 | 01:45 WIB

Harga emas turun 0,12% ke .614,22 per ons, sementara dolar AS menguat 0,28% ke 99,35, setelah data ekonomi AS stabil.(Foto: ilustrasi AI)
Harga emas turun 0,12% ke .614,22 per ons, sementara dolar AS menguat 0,28% ke 99,35, setelah data ekonomi AS stabil.(Foto: ilustrasi AI)
PADEK.JAWAPOS.COM-Harga emas dan minyak turun pada Kamis (15/1) seiring meredanya risiko geopolitik dan stabilnya data ekonomi Amerika Serikat. Dolar AS menguat, mendorong komoditas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Dikutip dari Reuters, saham Wall Street rebound didorong laporan laba kuartal IV TSMC, namun pergerakan emas, minyak, dan dolar tetap menjadi fokus investor menyusul sinyal perlambatan potensi konflik militer di Iran dari Presiden AS Donald Trump.

Harga Minyak Turun di Tengah Risiko Geopolitik yang Mereda

Minyak mentah AS turun 4,34% ke $59,33 per barel, sedangkan Brent turun 4,09% ke $63,80 per barel. Penurunan terjadi setelah sebelumnya harga sempat naik akibat ancaman intervensi AS terhadap Iran. “Risiko langsung melemah meski tetap ada potensi gangguan," ungkap analis Saxo BankOle Hansen.

Pergerakan ini mencerminkan bahwa pasar menyesuaikan harga setelah Trump menyatakan tidak ada rencana aksi besar-besaran terkait protes di Iran.

Emas Turun, Dolar AS Menguat

Emas, yang biasanya diminati sebagai aset safe-haven, turun 0,12% ke $4.614,22 per ons, sehari setelah mencatat rekor $4.642,72 per ons.

Kenaikan dolar AS 0,28% ke 99,35 membuat emas dan komoditas lainnya lebih mahal bagi pembeli internasional. Euro melemah 0,29% ke $1,1608.

Data ekonomi AS mendukung penguatan dolar, termasuk penurunan tak terduga klaim tunjangan pengangguran dan laporan manufaktur di New York serta wilayah Mid-Atlantic yang lebih kuat dari perkiraan.

Dampak Terhadap Pasar Keuangan

Kondisi ini sedikit menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga jangka pendek Federal Reserve. Yield obligasi AS 10-tahun tercatat 4,16%, naik dari 4,14%.

Presiden Chicago Federal Reserve, Austan Goolsbee, menekankan perlunya fokus pada pengendalian inflasi karena pasar tenaga kerja tetap stabil.

Investor kini memantau pergerakan emas, minyak, dan dolar AS sebagai indikator risiko global dan sentimen pasar, seiring laporan laba perusahaan teknologi seperti TSMC yang mendorong saham Wall Street.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#harga emas #dolar as #harga minyak #risiko geopolitik #Data Ekonomi AS