Kenaikan ini dinilai menjadi tanda pemulihan awal setelah aksi jual besar-besaran yang terjadi sejak akhir pekan lalu.
Spot gold tercatat naik 2,7% menjadi US$4.788,40 per ounce, sementara gold futures untuk pengiriman April juga meningkat 2,7% ke US$4.809,54 per ounce pada pukul 07.05 WIB.
Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga logam mulia lain yang bergerak positif pada sesi perdagangan yang sama.
Spot perak melonjak 4,3% ke US$82,6315 per ounce, sedangkan spot platinum naik 1,8% ke US$2.168,84 per ounce.
Dampak Penunjukan Kevin Warsh dan Penguatan Dolar
Aksi jual dua hari sebelumnya dipicu oleh penunjukan mantan gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai calon ketua bank sentral Amerika Serikat pilihan Presiden AS Donald Trump.
Penunjukan ini menghapus salah satu sumber ketidakpastian pasar, tetapi secara bersamaan menekan permintaan aset safe haven seperti emas.
Warsh dipandang sebagai sosok yang kurang dovish dibanding ekspektasi pasar. Ia mendukung permintaan Trump untuk suku bunga lebih rendah, namun menentang aktivitas pembelian aset The Fed serta mendorong pengurangan neraca, yang berpotensi menjaga kebijakan moneter tetap ketat dalam beberapa tahun mendatang.
Reaksi pasar terlihat jelas ketika dolar AS menguat dari level terendah empat tahun usai pengumuman tersebut.
Penguatan dolar semakin menekan harga logam mulia karena membuat komoditas tersebut lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Pasar Menanti Data Nonfarm Payrolls AS
Meski rebound terjadi, arah pasar logam mulia kini bergantung pada data tenaga kerja AS, terutama nonfarm payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis pada Jumat mendatang.
Data ini diperkirakan menjadi indikator penting mengenai prospek ekonomi AS dan jalur kebijakan suku bunga yang akan ditempuh Federal Reserve.
Pelaku pasar kini menantikan apakah rebound harga emas dapat bertahan atau kembali tertekan jika data tenaga kerja AS menunjukkan kekuatan ekonomi signifikan.(*)
Editor : Heri Sugiarto