Anak Muda Payakumbuh Pilih Berdagang di Batang Agam, Dua Bersaudara Jual Sate Bakaran Tiap Sore
Irfan R Rusli• Rabu, 4 Februari 2026 | 22:00 WIB
Dua anak muda di Payakumbuh memilih berdagang sate bakaran di kawasan Batang Agam sebagai alternatif kerja mandiri di tengah minimnya lapangan kerja. (foto: Irfan/Padeks)Dua anak muda di Payakumbuh memilih berdagang sate bakaran di kawasan Batang Agam sebagai alternatif kerja mandiri di tengah keterbatasan lapangan kerja formal.
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tengah keterbatasan lapangan kerja formal, dua bersaudara di Kota Payakumbuh memilih membuka usaha kecil dengan berjualan sate bakaran di kawasan Taman Batang Agam, Kelurahan Tanjung Pauh, Rabu (4/1/2026).
Hafiz (24) dan adiknya, Arin (17), memanfaatkan ramainya aktivitas masyarakat di jalur jogging Batang Agam pada sore hingga malam hari untuk menawarkan sate sosis, nugget, dan bakso bakar.
Pantauan di lokasi menunjukkan lapak sederhana tersebut mulai ramai dikunjungi pembeli selepas Magrib hingga malam, seiring meningkatnya jumlah pengunjung yang berolahraga dan bersantai di area taman.
Hafiz mengatakan keputusan berdagang diambil sebagai langkah produktif sembari mencari peluang kerja yang lebih pasti.
“Daripada menunggu pekerjaan dan tidak ada aktivitas, lebih baik mencoba usaha dulu. Yang penting tetap berjalan,” kata Hafiz.
Ia menilai kawasan Batang Agam memiliki potensi pasar yang stabil karena selalu dipadati warga setiap hari.
“Kami melihat orang datang ke sini rutin, banyak yang selesai olahraga mencari camilan ringan. Dari situ muncul ide jualan sate bakaran,” ujarnya.
Arin yang masih duduk di bangku kelas II SMA membantu berjualan sepulang sekolah dan saat akhir pekan.
“Selain menambah uang sendiri, saya ingin belajar tanggung jawab dan usaha sejak muda,” kata Arin.
Dalam operasional sehari-hari, Hafiz bertugas membakar sate, sementara Arin melayani pembeli, sehingga pelayanan tetap berjalan cepat saat pengunjung ramai.
Menu yang ditawarkan sederhana dan harga terjangkau, sehingga diminati berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Menurut Hafiz, berdagang di ruang publik memberikan keuntungan karena tidak memerlukan biaya sewa dan memiliki arus pengunjung yang relatif stabil.
“Kuncinya konsisten buka dan menjaga rasa. Kalau pembeli cocok, biasanya datang lagi,” ujarnya.
Keberadaan lapak-lapak kecil yang dikelola anak muda turut menambah aktivitas ekonomi di kawasan Batang Agam, yang kini tidak hanya berfungsi sebagai ruang olahraga dan rekreasi.
Aktivitas tersebut sekaligus menjadi sarana belajar kewirausahaan bagi generasi muda melalui interaksi langsung dengan konsumen. (cr7)