Serangan militer AS dan Israel ke Iran berlanjut, diikuti balasan rudal dari Iran, memicu ketidakpastian pasar global dan aliran investasi ke aset aman seperti emas dan dolar.
Dikutip dari Reuters, Brent sempat menembus $82,00 per barel, sedangkan U.S. crude naik ke $69,59 per barel. Ketegangan di Selat Hormuz, jalur laut utama yang menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG global, membuat kapal tanker menumpuk di kedua sisi, sebagian karena risiko serangan atau kesulitan mendapatkan asuransi perjalanan.
Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, menyebut bahwa penghentian aliran 15 juta barel per hari dapat mendorong penyesuaian harga minyak secara signifikan jika tidak ada sinyal de-eskalasi.
Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan menjadi beban tambahan bagi bisnis dan konsumen.
OPEC+ telah menyepakati tambahan produksi 206.000 barel per hari untuk April, namun distribusi minyak tersebut masih tergantung jalur pengiriman dari Timur Tengah.
Alan Gelder, SVP Wood Mackenzie, membandingkan situasi saat ini dengan embargo minyak Timur Tengah 1970-an yang mendorong harga minyak naik 300% pada 1974, setara sekitar $90/barel di pasar 2026.
Ketegangan global juga menekan indeks saham regional. Nikkei turun 1,4% dengan sektor maskapai terimbas paling parah akibat harga minyak tinggi.
Saham blue-chip China tetap stabil. Spot gold naik 1,0% ke $5.327 per ounce, sementara emas berjangka AS mencatat kenaikan 1,8% menjadi $5.342,80 per ounce, mencerminkan aliran modal investor ke safe-haven asset di tengah ketidakpastian geopolitik.
Spot silver turun 1,2% ke $92,72 per ounce, platinum turun hampir 1% ke $2.343,50 per ounce, dan palladium naik 0,5% ke $1.795,11 per ounce.
Indeks saham Asia dibuka melemah, dengan Hang Seng Index Hong Kong turun sekitar 2% dan Nikkei 225 Jepang turun 1,5%. Di AS, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 0,7%, menandakan kemungkinan hari perdagangan yang fluktuatif di Wall Street akibat ketidakpastian geopolitik dan dampak serangan terhadap sentimen investor.(*)
Editor : Heri Sugiarto