LUBUK MINTURUN—Usaha nasi uduk milik Emi (49) di kawasan Lubuk Minturun, Kota Padang, berkembang pesat setelah dirintis dari lapak kecil hingga kini menempati ruko. Usaha yang telah berjalan lebih dari lima tahun itu kini melayani puluhan hingga ratusan pembeli setiap hari.
Awalnya, Emi hanya berjualan di lapak sederhana berukuran sekitar 2×3 meter. Di tempat tersebut, ia melayani pembeli dengan sistem bungkus tanpa menyediakan tempat duduk.
“Dulu kecil sekali tempatnya, cuma cukup untuk saya masak dan melayani pembeli. Orang beli ya langsung dibungkus,” ujarnya saat ditemui, Jumat (3/4/2026).
Meski dengan keterbatasan, Emi tetap konsisten berjualan setiap hari. Ia mulai beraktivitas selepas salat Subuh dengan menyiapkan nasi uduk lengkap dengan lauk seperti telur, sambal, dan pelengkap lainnya.
Seiring waktu, jumlah pelanggan terus bertambah. Dari yang semula hanya beberapa orang, kini meningkat menjadi puluhan hingga ratusan pembeli setiap pagi.
Baca Juga: Wali Kota Payakumbuh Lantik Pejabat Baru, Ini Daftar Lengkapnya
Perluasan Usaha dan Strategi Harga
Melihat peningkatan permintaan, Emi memutuskan untuk memperluas usaha dengan menyewa ruko di samping lapaknya. Perubahan ini memungkinkan pelanggan menikmati makanan langsung di tempat dengan suasana yang lebih nyaman.
“Alhamdulillah sekarang sudah bisa sewa ruko di samping. Jadi pembeli bisa duduk makan di sini,” katanya.
Emi tetap mempertahankan harga terjangkau sebagai strategi utama. Nasi uduk dijual mulai dari Rp8.000, sementara tambahan lauk telur dibanderol Rp10.000.
Harga tersebut menjangkau berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pekerja. Meski margin keuntungan tidak besar, Emi mengaku lebih mengutamakan kepuasan pelanggan.
“Yang penting orang bisa makan enak dan kenyang. Walaupun untungnya tidak besar, tapi yang penting berkah,” ujarnya.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumbar 3 April 2026: Hujan Ringan, Padangpanjang Berpotensi Petir
Tambah Variasi untuk Tingkatkan Penjualan
Untuk menambah pemasukan, Emi juga menjual berbagai pelengkap seperti gorengan, sate tusukan, dan aneka camilan. Strategi ini membuat banyak pelanggan membeli lebih dari satu jenis makanan.
Salah satu pelanggan, Fatan (21), mahasiswa yang tinggal di sekitar lokasi, mengaku sering membeli nasi uduk di tempat tersebut.
“Harganya murah dan rasanya enak. Kalau pagi praktis, tidak perlu cari jauh,” katanya.
Menurutnya, lokasi yang strategis serta harga terjangkau menjadi alasan utama memilih nasi uduk Emi sebagai menu sarapan.
Baca Juga: Harga Plastik Naik Tajam, Penjualan Pedagang Turun hingga 40 Persen
Dagangan Cepat Habis
Tingginya minat pembeli membuat dagangan Emi sering habis dalam waktu singkat. Ia biasanya menutup jualan sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
Dalam beberapa jam saja, nasi uduk yang disiapkan setiap pagi ludes terjual. Hal ini menunjukkan tingginya permintaan masyarakat terhadap produk tersebut.
Perjalanan usaha Emi menggambarkan perkembangan dari usaha kecil menjadi lebih besar melalui konsistensi dan ketekunan dalam berjualan.(*)
Editor : Hendra Efison