PADEK.JAWAPOS.COM — Momentum peringatan Hari Kartini tahun ini diwarnai pengakuan internasional terhadap kiprah perempuan Indonesia di industri kecantikan global.
Majalah TIME menampilkan wawancara eksklusif dengan dr. Sari Chairunnisa dalam rubrik The Leadership Brief bertajuk “This Halal Beauty Company Boss Has Big Ambitions.”
Liputan tersebut menempatkan dr. Sari sebagai salah satu pemimpin yang berperan dalam membentuk masa depan industri kecantikan dunia.
Sorotan ini juga menjadi pengakuan atas perjalanan ParagonCorp yang didirikan oleh perempuan dan kini didukung lebih dari 80 persen karyawan perempuan.
Baca Juga: Blokade AS masih Berlanjut, Iran Tolak Berunding, Trump Juga Sebut tak akan Buru-buru Akhiri Perang
Dalam wawancara itu, TIME mengulas perjalanan ParagonCorp yang bermula dari usaha keluarga yang dirintis Nurhayati Subakat di Jakarta pada 1985.
Perusahaan tersebut awalnya hanya memiliki lima karyawan yang seluruhnya anggota keluarga, sebelum berkembang pesat menjadi entitas dengan lebih dari 15.000 karyawan atau Paragonian, serta dikenal sebagai salah satu pelopor global dalam kategori halal beauty.
Bagi dr. Sari, konsep halal beauty tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap bahan baku, tetapi juga mencerminkan nilai universal.
Ia menekankan pentingnya transparansi, integritas dalam proses produksi, sumber bahan yang etis, serta perhatian terhadap dampak lingkungan.
“Dulu, brand Amerika dan Eropa mendominasi pasar Indonesia. Namun, perempuan Indonesia mulai menyadari bahwa mereka memiliki definisi kecantikan mereka sendiri,” ujarnya dalam wawancara tersebut.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumbar 24 April 2026: Hujan Ringan Dominasi 7 Kota
Lebih lanjut, dr. Sari menegaskan bahwa pengakuan dari TIME bukan semata pencapaian individu, melainkan hasil dari perjalanan kolektif seluruh elemen perusahaan.
“Ini adalah cerminan dari perjalanan seluruh keluarga besar ParagonCorp para pendiri, Paragonian, dan perempuan Indonesia yang sejak awal percaya bahwa kecantikan dapat dibangun dari tangan kita sendiri,” katanya.
Komitmen terhadap pemberdayaan perempuan juga tercermin dari kekuatan riset perusahaan.
Departemen penelitian dan pengembangan ParagonCorp saat ini dihuni hampir 200 peneliti, dengan sekitar 80 persen di antaranya perempuan.
Selain itu, inovasi terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam proses riset dan pengembangan, yang turut mendorong berbagai pengakuan inovasi di tingkat global.
Pencapaian ini, menurut dr. Sari, tidak diraih secara instan. Perjalanan tersebut diwarnai tantangan dan ketidakpastian, namun tetap dijalani dengan semangat yang selaras dengan perjuangan R.A. Kartini—semangat yang terus hidup dalam perempuan Indonesia yang berkarya, meneliti, dan memimpin hingga saat ini.(*)
Editor : Hendra Efison