Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perang Digital Menjelang Pilpres 2029

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Dr. Gusrizal
Dr. Gusrizal

Advertisement

Penulis : Dr. Gusrizal - Bidang Hubungan Luar Negeri Universitas Fort de Kock

PILPRES memang masih 2,5 tahun lagi, tapi baunya sudah terasa. Ndak ada salahnya kok membicarakan PILPRES sebagai pembelajaran bagi masyarakat. PILPRES 2029 tentu saja akan semakin seru, saya menyebutnya dengan Perang Digital. Sebagai gambaran, jika pemilu 1999 kita kenal dengan perang spanduk dan stiker di tiang listrik, pemilu 2004 dengan perang baliho dan orasi di lapangan, maka PILPRES 2029 nanti kita akan menghadapi medan yang jauh lebih senyap, lebih masifdan lebih berbahaya. Saya sebut “berbahaya” bukan karena melebih-lebihkan, tapi karena pelurunya tidak berbunyi, korbannya tidak berdarahdan jejaknya bisa dihapus dengan satu klik “delete”. Padahal lukanya menganga di publik kita bertahun-tahun.Kerja digital dimulai dari sekarang. Kenapa? karena algoritma butuh waktu untuk “belajar”. Bot butuh waktu untuk “tumbuh”. Narasi butuh waktu untuk “ditancapkan” ke kepala kita, pelan-pelan, sampai terasa seperti kebenaran sendiri.

Masih ingat PILPRES 2024 kemarin? Konten-konten polarisasi, buzzer, deepfake, framing, itu tidak muncul 2 minggu sebelum nyoblos. Benihnya sudah disebar sejak awal. Akun-akun “buzzer organik” sudah dibangun. Data pemilih sudah dipetakan sejak lama. Jadi kalau kita baru “siaga” di 2029, maka kita sudah kalah 2 langkah. Seperti orang baru pasang pagar setelah kebunnya habis dimakan kambing.

Advertisement

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti. Saya belajar satu hal, perang paling merusak bukan yang menghancurkan gedung, tapi yang menghancurkan kepercayaan antar manusia. Perang digital 2029 nanti sasarannya tepat di situ,kepercayaan, akal sehat, dan silaturahmi kita. Logika perang digital tidak pakai kalender KPU.

Medan perang 2029 bukan lagi Jalan Medan Merdeka. Medannya ada diTikTok & Reels. 15 detik cukup untuk bikin orang marah. Emosi lebih cepat dari logika. Tidak hanya itu, grup WhatsApp keluarga, juga menjadi penentu. Serangan paling efektif datang dari “orang yang kita percaya”. Om bilang, tante share, ponakan forward. X/Twitter, juga termasuk medan tempur narasi cepat. Siapa yang paling nyaring, dia yang “menangtren”, walau faktanya ngawur. YouTube & Podcast, ini sebuah konten panjangyang dibungkus “bongkar fakta” tapi isinya opini berulang. Tanpa kita sadari, medan perang ini bekerja 24 jam nonstop. Tidak ada jeda kampanye. Tidak ada “hari tenang”. Algoritma tidak kenal libur.

Masyarakat juga harus tau, senjata baru itu,bukan bedil, tapi “Kata + Kode”. Kalau perang konvensional pakai peluru, perang digital pakai 4 senjata utama. Ini yang harus kita bedah sejak sekarang. Pertama: "Narasi & Framing". Ini senjata paling halus. Datanya bisa 20% benar, tapi dibingkai 80% agar menimbulkan kebencian. Contoh: “Calon A korupsi!” Padahal yang terjadi adalah audit rutin. Tapi framing-nya bikin kita langsung menghakimi. Narasi yang bagus bisa bikin orang waras jadi ikut berteriak.Kedua: "Buzzer & Bot". Dulu buzzer itu orang beneran yang dibayar. Sekarang Bot + AI (ArtificialIntelligence) bisa bikin 10.000 akun yang seolah “rakyat kecil marah”. Mereka tidak capek, tidak tidur, tidak punya rasa malu. Tugasnya cuma satu, bikin suara tertentu terdengar seperti “suara mayoritas”, padahal itu suara mesin.Ketiga: "Deepfake & AIGeneratif". Ini yang paling ngeri. 2024 kita sudah lihat video palsu tokoh bicara. 2029 nanti, teknologinya 10x lebih halus. Suara CAPRES bisa dipakai bilang “Saya mundur dari pencalonan” padahal yang bersangkutan lagi makan di warung. Wajah tokoh bisa dibuat nangis, marah, ngaku salah. Kalau mata dan telinga kita sudah dibohongi, lalu kita mau percaya apa? Terakhir, "Polarisasi & Adu Domba". Tujuan akhir semua senjata di atas bukan “menang pilpres”, tujuan akhirnya, membelah kita. Bikin anak vs bapak berantem di grup keluarga gara-gara beda pilihan. Bikin tetangga curiga sama tetangga. Kalau rakyat sibuk berantem, maka yang di atas bebas main"Divide et impera" versi digital.

Advertisement

Orang mungkin banyak yang salah paham. Dikira perang digital itu cuma menyerang calonA atau calon B,tidak. Sasaran utamanya adalah kita, rakyat.Tujuannya bikin 3 hal. Pertama agar kita capek. Kita dibanjiri informasi sampai akhirnya bilang, “ah, semua sama aja, nggak usah nyoblos”. Apatisme = kemenangan bagi yang mau pilpres sepi.  Kedua menimbulkan rasa "Benci'. Kita diprovokasi sampai benci ke orang yang beda pilihan. Padahal 5 tahun lalu kita masih satu meja makan. Terakhir "membuat masyarakat bingung". Banjir hoax + fakta + opini + deepfake bikin kita nggak bisa bedakan mana yang benar. Kalau bingung, orang cenderung ikut yang paling keras teriaknya. Lalu apa yang harus dilakukan? Perang digital tidak bisa dilawan dengan perang digital juga. Tidak bisa dilawan dengan hoax balasan. Perang digital hanya bisa dilawan dengan 3 hal: akal sehat, hati yang ademdan silaturahmi yang dijaga.

Mari kita “bongkar mesinnya”. Siapa yang main, pakai jurus apadan kenapa kita rakyat biasa jadi korban paling empuk.Para pemain di balik layar, bukan cuma “Tim Sukses”. Kalau pemilu 1999 pemainnya jelas, partai, relawan, ormas. Kalau 2029 nanti, pemainnya jauh lebih banyak dan lebih tidak kelihatan wajahnya. Siapa saja mereka?. Pertama, mereka adalah Tim Pemenangan Digital. Ini versi upgrade dari “tim sukses”. Isinya bukan cuma relawan bawa atribut. Ada ahli data, ahli psikologi, ahli meme, ahli algoritma. Kerja mereka bukan pasang baliho, tapi “pasang narasi” di kepala 10 juta orang. Mereka nggak tidur 24 jam karena server nggak kenal malam.

Kedua, Buzzer Profesional + Bot.  Buzzer 2024 masih banyak yang manusia. 2029 nanti, Bot + AI generatif akan mendominasi. Satu orang bisa kendalikan 50.000 akun. Akun ini bisa pura-pura jadi “Ibu rumah tangga marah”, “Petanikecewa”, “Mahasiswa galau”. Tujuannya, bikin narasi tertentu kelihatan seperti “suara rakyat”, padahal itu suara mesin. Terus apa lagi? Selanjutnya "Vendor Data & Pedagang Profil”. Data kita itu seperti minyak baru. Kebiasaan scroll, like, share, jam online, semua dijual. Dari situ mereka bisa tahu, kita marahnya dipicu isu apa, kita takutnya apa dan kita paling percaya sama siapa. Lalu iklan politik disuntikkan pas di titik lemah itu. Namanya “microtargeting”. Kita ngerasa “kok iklannya pas. Yang terakhir ya kita sendiri, “Rakyat relawan tanpa sadar”.  Inilah pemain paling banyak. Kita yang tanpa dibayar rela jadi “penyebar utama”. Cukup 1 klik “forward ke 5 grup”, misi mereka selesai. Tanpa sadar kita jadi kurir hoax gratis. Inilah yang bikin perang digital 2029 lebih dahsyat dari 2024.

Lalu bagaimana cara mereka bermain? Cara-cara ini sebetulnya sudah mulai mereka mainkan sebelumnya, 2029 nanti bungkusnya lebih halus lagi, dan AI (Artificial Intelligence) itu, sangat membantu mereka. Pertama dengan “Banjir Informasi” / Information Overload. Tujuannya bikin kita capek. Sehari sebelum debat, tiba-tiba muncul 200 konten, grafik, video, dokumen “bocoran”, meme, thread panjang. Otak kita nggak bisa proses semua. Akhirnya kita pilih jalan pintas, percaya yang paling sering muncul di feed. Kualitas kalah sama kuantitas. Terus “Deepfake + Cheapfake”. Cheapfake = video asli tapi dipotong, dikasih caption ngawur. Deepfake = video palsu total. 2024 kita sudah kena versi kasarnya. 2029 nanti bayangkan, video seseorang pidato bilang “Saya dukung X” padahal dia entah di mana berada. Suaranya 99% mirip, gerak bibirnya pas. Kalau orang dekat aja bisa ketipu 3 detik pertama, apalagi orang di luar sana yang nggak kenal dekat, tentu akan percaya. Selanjutnya melalui “Operasi Bendera Palsu” / False Flag.  Akun yang ngaku-ngaku “pendukung calon A” tapi kelakuannya paling brutal, paling kasar, paling rasis. Tujuannya bukan menangkan A, tapi bikin calon A dibenci orang. “Lihat tuh pendukungnya barbar”. Padahal yang ngatur akun itu tim lawan. Ini jurus kotor tapi efektif buat bakar emosi. Terus “Serangan ke grup WhatsApp keluarga”. Ini medan paling rawan. Kenapa rawan?  Karena kepercayaan tinggi.Coba bayangkan, yang share om sendiri, tante sendiri. Jadi verifikasi = 0%.  Terus "Echo chamber". Isinya orang sepemikiran. Kalau ada 1 hoax masuk, semua mengamini. Terus lagi, nggak ada faktachecker,nggak ada Kominfo di grup keluarga, yang ada cuma “amin, betul itu nak”. Satu hoax di grup RT bisa lebih mematikan dari 1000 tweet di X. Yang terakhir dari cara-cara mereka bermain, yaitu “Bermain dengan emosi dasar”. Algoritma paling suka 3 emosi: marah, takut dan bangga. Jadi semua narasi 2029 akan dibungkus 3 bungkusan itu.  Marah. “Mereka hina ulama kita”. Takut. “Kalau X menang, negara bubar". Bangga. “Kita kubu paling cerdas, yang lain cebong/kadrun!” 

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII 24-26 Juli  tahun 2026 menghasilkan  11 poin kesimpulan.

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Sepakbola Sumatera Barat punya darah. Lihat saja SSB di 19 kabupaten/kota, tiap sore lapangan penuh anak-anak pakai jersey.

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KONGRES Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Jakarta menjadi momentum penting bagi konsolidasi umat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer