Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Prospek Harga Emas 2026: Goldman Sachs Pangkas Target, Morgan Stanley Bertahan di US$5.200

Heri Sugiarto • Senin, 22 Juni 2026 | 12:06 WIB
Prospek harga emas 2026 picu beda pandangan. Goldman Sachs pangkas target jadi US$4.900, sementara Morgan Stanley optimis sentuh US$5.200.(Foto ilustrasi AI)
Prospek harga emas 2026 picu beda pandangan. Goldman Sachs pangkas target jadi US$4.900, sementara Morgan Stanley optimis sentuh US$5.200.(Foto ilustrasi AI)

PADEK.JAWAPOS.COM – Prospek harga emas dunia mulai memicu perdebatan di kalangan institusi finansial global. Terbaru, Goldman Sachs blak-blakan memangkas target harga emas akhir tahun ini dari US$5.400 per ounce menjadi US$4.900 per ounce.

Langkah ini diambil menyusul proyeksi bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) bakal tertahan di level tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Melansir laporan The Street, Goldman Sachs melihat peluang The Fed untuk menurunkan suku bunga di sepanjang tahun 2026 ini semakin menipis. Alhasil, emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) menjadi kurang kompetitif dibanding instrumen investasi berbasis bunga.

Analis Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven, kini menggeser prediksi pelonggaran moneter AS ke Juni dan Desember 2027. Padahal dalam hitungan sebelumnya, mereka memperkirakan The Fed sudah mulai memangkas suku bunga pada Desember 2026 dan Maret 2027. Pergeseran linimasa inilah yang menjadi motor utama pemangkasan target harga emas.

Morgan Stanley Tetap Optimistis

Berbeda arah dengan Goldman Sachs, Morgan Stanley justru memilih bertahan di kubu bullish. Mereka optimistis logam mulia ini masih mampu menyentuh angka US$5.200 per ounce pada paruh kedua 2026.

Dikutip dari Investing, Morgan Stanley menilai fondasi pasar emas sebenarnya masih sangat kokoh, terutama berkat aksi borong yang dilakukan oleh sejumlah bank sentral dunia.

Bank Sentral China (PBOC) menjadi salah satu yang paling agresif. Sepanjang periode Maret hingga Mei 2026 saja, China sukses mencatatkan pembelian hingga 23 ton emas. Angka ini melampaui total belanja emas mereka selama 12 bulan sebelumnya yang mentok di 19 ton.

Selain itu, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga dinilai membawa dampak positif. Penurunan harga energi akibat deeskalasi konflik memberi ruang napas fiskal bagi bank sentral untuk terus menumpuk cadangan emas mereka.

Kuncinya Ada di Arus Dana ETF

Meski begitu, Morgan Stanley memberikan catatan penting: target US$5.200 per ounce bakal sulit terealisasi jika investor retail dan institusi belum kembali melirik instrumen Exchange Traded Fund (ETF) emas.

Sejauh ini, aliran dana masuk (inflow) ke ETF emas masih menjadi rantai yang hilang dalam reli harga saat ini. Investor tampak masih menahan diri akibat sikap hawkish The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir. Sinyal suku bunga tinggi tersebut sukses mengerek imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan memperkuat dolar, yang memicu aksi jual (outflow) di pasar ETF emas belakangan ini.

Pada akhirnya, peta pergerakan harga emas di sisa tahun 2026 akan menjadi arena adu kuat antara agresivitas belanja bank sentral global melawan arah kebijakan suku bunga The Fed.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#goldman sachs #prediksi harga emas #morgan stanley #harga emas 2026 #investasi emas