PADEK.JAWAPOS.COM – Harga minyak dunia bergerak nyaris tidak berubah pada perdagangan Kamis (6/8/2026), setelah mengalami penurunan tajam pada awal pekan. Pelaku pasar masih menunggu perkembangan negosiasi terkait potensi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Dikutip dari Investing, pada pukul 16.23 WIB, harga minyak mentah Brent sebagai acuan global bertahan di US$79,48 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun tipis 0,1 persen menjadi US$75,12 per barel.
Meski bergerak stabil pada perdagangan hari ini, kedua kontrak masih berada di jalur penurunan lebih dari 10 persen dalam sepekan terakhir.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Bertahan Dekat Level Tertinggi 7 Pekan, Pasar Cermati Kesepakatan Selat Hormuz
Sentimen utama pasar masih berasal dari perkembangan di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koordinat jalur pelayaran yang diusulkan melalui Selat Hormuz.
Jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling strategis di dunia yang, sebelum pecahnya perang Iran pada akhir Februari, dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti Selat Hormuz sepenuhnya dibuka kembali.
Baca Juga: Trans Padang Sesuaikan Rute Koridor 2 dan 4 untuk Open Ship Hari Jadi Kota Padang, Tarif Rp1
Sejumlah isu penting, termasuk biaya pelayaran, mekanisme inspeksi kapal, serta pengaturan keamanan yang lebih luas, masih menjadi bagian dari proses negosiasi.
Negosiasi AS-Iran Masih Menjadi Penentu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dalam sebuah acara di Las Vegas pada Rabu (5/8) bahwa Washington masih melakukan pembicaraan dengan Teheran terkait perkembangan situasi tersebut.
"Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi," kata Trump mengenai proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Namun, Iran secara terbuka membantah bahwa pembicaraan damai dengan Amerika Serikat sedang berlangsung.
Analis ING menilai arah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran kini menjadi faktor paling menentukan bagi pemulihan arus pasokan energi global.
"Faktor penentu saat ini adalah arah pembicaraan AS-Iran karena kemajuan yang berarti sangat penting sebelum arus pasokan energi yang terganggu dapat benar-benar pulih," tulis analis ING dalam laporannya.
Menurut mereka, prospek bertambahnya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz memang telah mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Bergerak Bantu Korban Banjir, 100 Paket Sembako Disalurkan di Padang
Meski demikian, premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang mengingat negosiasi sebelumnya beberapa kali mengalami hambatan dan belum ada kepastian bahwa setiap kesepakatan dapat diimplementasikan sepenuhnya.
Kenaikan Stok Minyak AS Tekan Harga
Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat tekanan dari data persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
Stok minyak mentah AS dilaporkan meningkat sekitar 2,5 juta barel pada pekan lalu. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan sekitar 1,5 juta barel.
Kenaikan persediaan tersebut mengindikasikan permintaan minyak dalam jangka pendek masih relatif lemah.
Di sisi lain, pasar bahan bakar olahan menunjukkan tren berbeda. Persediaan bensin turun sekitar 1,64 juta barel, sedangkan stok distilat—yang mencakup diesel dan minyak pemanas—berkurang sekitar 3,47 juta barel selama periode yang sama.(*)
Editor : Heri Sugiarto