Harga Emas Tertekan, Yield Treasury AS Tembus Level Tertinggi Sejak 2007

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:39 WIB
Harga emas turun 1,5% ke US$4.351 akibat yield Treasury AS dan kenaikan minyak. Pasar menanti risalah The Fed Juli.(Foto: Pegadaian)
Harga emas turun 1,5% ke US$4.351 akibat yield Treasury AS dan kenaikan minyak. Pasar menanti risalah The Fed Juli.(Foto: Pegadaian)

PADEK.JAWAPOS.COM-Harga emas dunia turun 1,5 persen ke US$4.351,23 per troy ounce pada perdagangan Selasa (18/8/2026), tertekan aksi jual obligasi Treasury AS dan kenaikan harga minyak. Investor kini menanti risalah rapat Federal Reserve (The Fed) Juli yang dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah suku bunga.

Penurunan tersebut terjadi ketika pasar obligasi Amerika Serikat mengalami aksi jual besar. Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat emas menjadi relatif kurang menarik karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Tekanan terbesar datang dari obligasi Treasury bertenor panjang. Imbal hasil Treasury 30 tahun sempat mencapai 5,335 persen, level tertinggi sejak Juni 2007, sebelum memangkas kenaikannya. Imbal hasil tersebut kemudian turun sekitar 2,4 basis poin menjadi 5,286 persen.

Aksi jual obligasi terjadi meski data inflasi konsumen dan produsen AS yang dirilis pekan sebelumnya relatif terkendali.

Baca Juga: Koperasi Desa Balai Kuraitaji Raih Penghargaan RAT Tercepat se-Sumbar

Kekhawatiran inflasi kembali meningkat karena kenaikan harga minyak di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran, sementara penerbitan obligasi dalam jumlah besar oleh perusahaan teknologi untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan turut menambah kekhawatiran terhadap pasokan utang.

Imbal hasil obligasi dengan tenor panjang juga mendapat tekanan lebih besar dibandingkan tenor pendek. Obligasi jangka panjang lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga karena memiliki periode jatuh tempo yang lebih panjang.

Pembelian Bank Sentral Masih Menjadi Penopang

Meski mengalami tekanan dalam jangka pendek, emas masih memperoleh dukungan struktural dari pembelian bank sentral.

Data yang dikutip ANZ menunjukkan bank sentral dunia membeli 244 ton emas pada kuartal pertama 2026, menjadi pembelian kuartalan tertinggi sejak kuartal IV 2024. Bank sentral China juga menambah 8 ton emas pada April, pembelian bulanan terbesar sejak Desember 2024.

Baca Juga: Pendapatan Payakumbuh Naik Rp139,45 Miliar, Tembus Rp789,75 Miliar

ANZ menilai diversifikasi cadangan bank sentral masih dapat menjadi penopang harga emas dalam jangka panjang, terutama di tengah memburuknya hubungan internasional.

ANZ memperkirakan harga emas dapat mencapai US$5.200 per ounce pada akhir 2026, dengan diversifikasi bank sentral menjadi salah satu faktor pendukung utama.

Pasar Menanti Risalah The Fed

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juli 2026 yang dijadwalkan dirilis Rabu, 19 Agustus.

Dalam rapat 28-29 Juli, The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50-3,75 persen. Keputusan tersebut disahkan dengan suara 9-3, dengan tiga presiden bank Federal Reserve regional menginginkan kenaikan suku bunga 25 basis poin.

Karena itu, investor akan mencermati risalah tersebut untuk melihat seberapa besar dukungan terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Nada hawkish dalam risalah berpotensi memperkuat imbal hasil obligasi dan menambah tekanan terhadap emas.

Sebaliknya, indikasi bahwa mayoritas pejabat The Fed tetap melihat ruang untuk mempertahankan atau menurunkan suku bunga dapat mengurangi tekanan terhadap logam mulia.

Baca Juga: KAI Divre II Sumbar Layani 27.432 Pelanggan Selama Libur HUT RI ke-81

Emas sebelumnya mendapat dukungan dari melemahnya data ekonomi AS, terutama data pasar tenaga kerja dan inflasi, yang mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga.

Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan AS-Iran

Dari pasar energi, harga minyak kembali menguat. Brent crude ditutup pada sekitar US$91,02 per barel, naik 0,17 persen, sementara WTI naik 0,52 persen menjadi US$84,94 per barel. Brent sempat mencapai level tertinggi lebih dari tiga pekan.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah berakhirnya kesepakatan sementara AS-Iran dan meningkatnya ketegangan mengenai Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global.(*)

Editor : Heri Sugiarto
Treasury AS harga emas emas dunia the fed harga emas hari ini