PADEK.JAWAPOS.COM — Harga emas bertahan di dekat level US$4.400 per ounce pada Kamis (3/9/2026) pagi, setelah menguat sekitar 1 persen pada sesi sebelumnya.
Ekspektasi inflasi yang lebih rendah akibat meredanya tekanan harga energi turut mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.
Dikutip dari Investing, pukul 07.34 WIB, Kamis (3/9/2026), harga emas spot XAU/USD bergerak tipis di level US$4.384,21 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas naik 0,3 persen menjadi US$4.429,21 per ounce.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot XAG/USD turun 0,1 persen menjadi US$65,26 per ounce, sedangkan platinum XPT/USD bergerak nyaris tidak berubah di US$1.760,62 per ounce.
Indeks dolar AS juga relatif stabil di level 99,57.
Emas Terangkat setelah Harga Minyak Mereda
Harga emas menguat sekitar 1 persen pada Rabu (2/9/2026), sekaligus mengakhiri penurunan selama tiga sesi berturut-turut.
Penguatan tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan bahwa serangan terbaru AS terhadap Iran kemungkinan tidak akan berkembang menjadi aksi militer berkepanjangan.
Pernyataan Trump membantu meredakan reli harga minyak dan mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi yang sebelumnya menekan harga emas.
Sebelumnya, eskalasi konflik AS-Iran memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik yang lebih luas dan berkepanjangan. Gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi.
Kenaikan harga energi dapat meningkatkan inflasi dan membuat Federal Reserve memiliki lebih sedikit ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Sebaliknya, suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Ketika imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga meningkat, investor memiliki insentif lebih besar untuk memegang aset yang menghasilkan pendapatan.
Dolar Melemah, Yen Menguat
Pergerakan dolar AS juga memberikan dukungan terhadap harga emas.
Penguatan tajam yen Jepang membuat perhatian pasar kembali tertuju pada kemungkinan intervensi mata uang Jepang.
Pelemahan dolar kemudian membantu menopang harga bullion karena emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Harga emas sempat melonjak hingga 1,6 persen pada Rabu ketika dolar melemah setelah yen Jepang menguat tajam.
Pasar Menilai Ulang Prospek Suku Bunga Fed
Prospek kebijakan Federal Reserve menjadi perhatian utama investor menjelang pertemuan bank sentral AS sekitar dua pekan mendatang.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, memberikan sinyal yang turut membuat investor menilai ulang prospek suku bunga.
Williams mengatakan terdapat bukti bahwa inflasi AS terus mereda seiring dampak tarif yang mulai memudar. Ia juga menyebut kenaikan harga energi belum menyebar ke sektor jasa lainnya.
Data pasar tenaga kerja AS turut memberikan gambaran yang lebih lunak.
Menurut laporan ADP, perusahaan swasta AS menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus 2026, menjadi pertumbuhan pekerjaan paling lambat sejak Januari. Angka tersebut juga berada di bawah ekspektasi pasar.
Perlambatan perekrutan tersebut dapat mengurangi kekhawatiran mengenai tekanan ekonomi dan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam memperkirakan arah kebijakan Federal Reserve.(*)
Editor : Heri Sugiarto