Bawang Merah Dorong Inflasi Sumbar Terus Melandai

Suryani • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:47 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram.

PADEK.JAWAPOS.COM--Inflasi tahunan Sumatera Barat melanjutkan tren penurunan meskipun inflasi bulanan meningkat pada Agustus 2026. Bank Indonesia Sumbar merilis, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,76% (yoy), turun dari 4,12% (yoy) pada Juli 2026 dan 4,70% (yoy) pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi bulanan meningkat menjadi 0,18% (mtm) dari 0,07% (mtm) pada Juli 2026, sehingga secara kumulatif inflasi hingga Agustus 2026 tercatat sebesar 1,23% (ytd).

Kepala Perwakilan BI Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, penurunan Inflasi tahunan ditopang oleh melandainya harga cabai merah dan penurunan (deflasi) harga bawang merah, telur ayam ras, jengkol, buncis dan petai. Secara khusus, peningkatan produksi Bawang Merah selama tahun 2026 inimemberikan andil deflasi hingga -0,40% (yoy).

“Penurunan inflasi lebih dalam masih tertahan oleh peningkatan harga komoditas emas perhiasan, daging ayam ras, beras, dan bensin,” ujar Majid dalam siaran pers Kamis (3/9).

Baca Juga: Real Madrid Hadapi Inter Milan di Pembuka Liga Champions 2026/27, Ini Jadwal Lengkap 8 Laga

Secara bulanan, lanjutnya, peningkatan inflasi bulanan pada Agustus 2026 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,33% (mtm) dengan andil 0,12%.Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 0,94% (mtm) dengan andil 0,05%, serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,67% (mtm) dengan andil 0,04%. Di sisi lain, kelompok transportasi mengalami deflasi 0,59% (mtm) dengan andil-0,06%, sehingga menahan inflasi yang lebih tinggi.

“Kenaikan inflasi bulanan didorong oleh meningkatnya harga daging ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, ikan tongkol, dan beras. Daging ayam ras menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,23% (mtm) akibat tingginya harga di Dharmasraya didorong meningkatnya permintaan pada momentum Maulid Nabi dan rangkaian peringatan HUT RI, di tengah kenaikan harga pakan ternak. Inflasi lebih lanjut didorong oleh andil inflasi adalah cabai rawit (0,05% mtm), emas perhiasan (0,05%mtm), ikan tongkol (0,03%mtm), dan beras (0,02%mtm),” urainya.

Sementara itu, kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan penguatan harga emas global, sedangkan kenaikan harga cabai rawit di Kabupaten Dharmasraya dipengaruhi berkurangnya pasokan dari daerah pemasok akibat kegagalan panen.

Baca Juga: Bukan Sekadar Deklarasi, Wabup Dharmasraya Minta Hotspot Dilaporkan 1x24 Jam

Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, terutama cabai merah, jengkol, angkutan udara, tomat, dan bawang merah. Deflasi komoditas hortikultura cabai merah dan bawang merah ditopang meningkatnya produksi seiring berlangsungnya musim panen di sentra produksi Sumatera Barat, khususnya Solok. Sementara itu, tarif angkutan udara menurun seiring penurunan fuel surcharge hingga 30% yang didukung penurunan harga avtur serta normalisasi permintaan pascalibur sekolah.

Secara spasial, seluruh kabupaten/kota IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi pada Agustus 2026. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 0,46%, diikuti Kota Bukittinggi (0,20% mtm), Kabupaten Dharmasraya (0,11%mtm), dan Kota Padang (0,10%mtm). Secara tahunan, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Dharmasraya sebesar 4,34%, diikuti Kabupaten Pasaman Barat (4,11% yoy), Kota Bukittinggi (3,78%yoy), dan Kota Padang (3,55%yoy). Sementara itu, secara kumulatif inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 2,71% (ytd), diikuti Kota Bukittinggi (1,38% ytd), Kota Padang (1,24%ytd), dan Kabupaten Pasaman Barat (0,38%ytd).

Relatif terkendalinya inflasi kumulatif Sumatera Barat hingga Agustus 2026 yang tercatat sebesar 1,23% (ytd), menunjukkan efektivitas berbagai program pengendalian inflasi yang dilakukan olehTim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Keberhasilan tersebut didukung oleh pelaksanaan GerakanPengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) melalui operasi pasar, gerakan pangan murah, serta penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD). Ke depan, sinergi pengendalian inflasi akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Baca Juga: Solar Langka di Sumbar Dilaporkan Gubernur ke Dony Oskaria, Ini Responsnya

Dalam rangka menjaga inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat bersama TPID terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui penguatan pasokan pangan, kelancaran distribusi, serta pengelolaan ekspektasi masyarakat melalui berbagai langkah strategis, antara lain melalui:  Percepatan pemulihan sarana dan prasarana pendukung distribusi pascabencana, intensifikasi operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga keterjangkauan harga pangan.

Kemudian, optimalisasi KADintra provinsi berbasis neraca pangan guna menjaga kecukupan pasokan dan stabilitas harga; serta penguatan ketahanan pasokan hortikultura melalui pengembangan urban farming dan pemberdayaan kelompok tani champion cabai dan bawang.

“Ke depan, inflasi Sumatera Barat diperkirakan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1% (yoy). Namun demikian, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai, antara lain kenaikan harga pangan dan energi global, gangguan produksi akibat faktor cuaca, disrupsi distribusi, disparitas harga antarwilayah, serta tekanan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya produksi dan ekspektasi inflasi,” pungkasnya. (eni/rel)

Editor : Adetio Purtama
inflasi sumbar bank indonesia