Industri Kopi Sumbar Tak Cukup Andalkan Coffee Shop, Petani hingga Wisata Jadi Kunci

Mhd. Nazir Fahmi • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 17:01 WIB
Workshop Mengulik Bisnis Coffee Shop yang digelar Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat dalam rangka memperingati Hari Kopi Sedunia 1 Oktober 2026, Rabu (30/9/2026), di Pangeran Beach Hotel, Padang. (Foto: Mhd. Nazir Fahmi)
Workshop Mengulik Bisnis Coffee Shop yang digelar Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat dalam rangka memperingati Hari Kopi Sedunia 1 Oktober 2026, Rabu (30/9/2026), di Pangeran Beach Hotel, Padang. (Foto: Mhd. Nazir Fahmi)

PADEK.JAWAPOS.COM — Bisnis kopi di Sumatera Barat dinilai tidak lagi cukup bertumpu pada cita rasa dan pertumbuhan coffee shop semata. Penguatan petani, kesehatan produk, keberlanjutan, ketertelusuran, akses pasar hingga pengembangan wisata kopi disebut menjadi bagian penting dalam membangun industri kopi yang berkelanjutan.

Hal itu mengemuka dalam Workshop Mengulik Bisnis Coffee Shop yang digelar Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat dalam rangka memperingati Hari Kopi Sedunia 1 Oktober 2026, Rabu (30/9/2026), di Pangeran Beach Hotel, Padang.

CEO PT ALKO Sumatera Kopi sekaligus Coffee Entrepreneur dan Specialty Coffee Exporter, Suryono, mengatakan masa depan kopi sangat ditentukan oleh nilai yang melekat pada produk, bukan hanya rasa.

"Value yang harus ada di dalam cangkir kopi. Kalau tidak ada, kopi seperti air hitam yang ada di depan cangkir kita," ujarnya.

Menurut Suryono, konsumen, terutama generasi muda, semakin memperhatikan asal-usul kopi, proses budidaya, dampak terhadap lingkungan, serta kesejahteraan petani. Karena itu, industri kopi harus mampu menghadirkan produk yang berkelanjutan dan dapat ditelusuri mulai dari kebun hingga ke tangan konsumen.

Ia menyebut prinsip ALKO, "sepi di hulu, ramai di hilir", menggambarkan perlunya keseimbangan antara pertumbuhan coffee shop dengan penguatan petani sebagai penyedia bahan baku.

"Coffee shop kita sudah banyak, mesin-mesinnya juga bagus. Tetapi mereka membutuhkan bahan baku. Di sinilah peran anak muda untuk peduli terhadap keberlangsungan di hulu, terutama petani," katanya.

Suryono juga mendorong pemanfaatan teknologi, termasuk blockchain, untuk memperkuat ketertelusuran kopi. Menurutnya, pasar ekspor semakin ketat dalam menerapkan standar keamanan pangan, residu, dan berbagai persyaratan lainnya.

Kualitas Kopi Dibangun Sejak dari Kebun

Coffee Research & Innovation Expert sekaligus Guru Besar Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Prof Dr Rince Alfia Fadri, menekankan pentingnya menghasilkan kopi yang tidak hanya nikmat, tetapi juga memiliki nilai kesehatan. 

"Bagaimana kita menghasilkan kopi yang sehat, terutama dari sisi antioksidan dan komponen bioaktifnya. Harapannya, setiap cangkir kopi yang kita minum memiliki nilai positif bagi yang mengonsumsinya," ujarnya.

Menurut Prof Rince, kualitas kopi harus dibangun sejak proses budidaya, pemetikan, pascapanen hingga penyeduhan. Bersama timnya, ia juga mengembangkan Roda Rasa Kopi Minang dan Roda Rasa Kopi Sumatera berdasarkan penelitian terhadap kopi dari berbagai wilayah.

"Kopi itu seksinya berasal dari petani," katanya.

Akses Pasar Petani Dinilai Perlu Diperkuat

Penggerak Ekosistem Kopi dari Hulu ke Hilir sekaligus Ketua KPSU Solok Radjo, Joni Sandika, menilai pertumbuhan bisnis coffee shop harus memberikan dampak ekonomi yang lebih besar kepada petani.

Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi petani adalah keterbatasan akses terhadap pasar sehingga nilai ekonomi kopi lebih banyak dinikmati sektor hilir.

"Selama ini problem kita, sektor hilir mendapatkan nilai ekonomi yang cukup banyak. Sedangkan nilai ekonomi itu tidak mampu didistribusikan kepada sektor hulu, yaitu petani," ujarnya.

Joni mengatakan pengalaman Solok Radjo sejak 2012 menunjukkan bahwa bisnis kopi dapat dibangun dengan memperkuat hubungan antara petani, pengolahan, roasting hingga konsumen. Ia menilai bisnis kopi seharusnya tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi membangun ekosistem yang memberikan dampak lebih panjang.

Kawasan Kopi Berpotensi Menjadi Destinasi Wisata

Owner Kopi Bulango sekaligus anggota DPRD Sumatera Barat, Asril, melihat kopi sebagai pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi masyarakat yang lebih luas.

Menurutnya, persoalan mendasar yang sering dihadapi petani adalah kepastian pasar bagi hasil panen. Karena itu, ia mendorong pembentukan kawasan kopi, kelompok tani, koperasi, dan kelembagaan yang dapat berperan sebagai off-taker atau penyerap hasil produksi petani.

"Kita harus bangun kawasan. Kita dorong untuk membangun kawasan. Kemudian bagaimana cara pengelolaannya? Kita bikin kelompok, kita bikin koperasi dan kelembagaannya," katanya.

Asril juga melihat kebun kopi dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata. Wisatawan tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga dapat melihat proses pemetikan, pengolahan, roasting hingga menikmati kopi langsung dari kawasan perkebunan.

Menurutnya, konsep tersebut dapat membantu memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat. "Kopi adalah pintu pembuka," ujarnya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
wisata kopi petani kopi phri kopi coffee shop