Bareh Randang Payakumbuh Bertahan 3 Generasi, Produksi Turun dari 100 Jadi 50 Kg per Hari

Harizatul Ismi • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 17:12 WIB
Bareh Randang Utama Payakumbuh mempertahankan pembuatan kudapan berbahan beras ketan secara tradisional sejak usaha berdiri pada 1983.
Bareh Randang Utama Payakumbuh mempertahankan pembuatan kudapan berbahan beras ketan secara tradisional sejak usaha berdiri pada 1983.

PADEK.JAWAPOS.COM — Bareh Randang Utama di Payakumbuh masih mempertahankan pembuatan kudapan tradisional berbahan beras ketan sejak usaha tersebut berdiri pada 1983. Kini, usaha itu telah diteruskan hingga tiga generasi.

Di tengah keberlanjutan usaha tersebut, produksi Bareh Randang mengalami penurunan. Jika sebelumnya mampu mencapai sekitar 70 hingga 100 kilogram per hari, kini produksinya sekitar 50 kilogram per hari.

Penurunan produksi tersebut turut berdampak pada omzet. Bareh Randang Utama yang sebelumnya mampu mencatat omzet sekitar Rp5 juta per hari, kini berada di kisaran Rp1 juta per hari.

Amel (31), salah satu penerus Bareh Randang Utama, mengatakan kualitas menjadi salah satu alasan usaha tersebut tetap dipertahankan.

Bahan baku yang digunakan tetap diperhatikan, termasuk gula pasir putih kualitas nomor satu.

“Untuk mempertahankan usaha ini karena mempertahankan kualitasnya, walaupun modal barang naik,” ujar Amel.

Proses pembuatan Bareh Randang juga masih mempertahankan cara tradisional yang dilakukan sejak awal usaha. Tepung ketan dibuat dari beras asli yang terlebih dahulu direndang.

Proses kemudian dilanjutkan dengan memanaskan santan dan air gula hingga menjadi bagian dari adonan Bareh Randang. Kudapan tersebut memiliki tekstur lembut dengan perpaduan rasa manis dan gurih.

Meski mengandung kata “randang”, Bareh Randang bukan rendang daging yang dikenal sebagai salah satu kuliner Minangkabau. Makanan ini dibuat dari beras ketan melalui proses pengolahan tradisional.

Menurut Amel, Bareh Randang Utama menjadi salah satu usaha yang masih bertahan ketika sejumlah usaha serupa di Payakumbuh mulai berhenti. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya generasi yang melanjutkan usaha tersebut.

Karena itu, keberadaan generasi penerus menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan makanan tradisional tersebut.

Bareh Randang kini tidak hanya dibeli masyarakat yang telah lama mengenalnya, tetapi mulai dikenal pula oleh anak muda.

Pembelinya beragam. Sebagian membeli Bareh Randang secara eceran untuk dikonsumsi sendiri. Sebagian lainnya membeli dalam jumlah lebih banyak untuk kembali dijual.

Meski produksi dan omzet menurun, Bareh Randang Utama tetap menjalankan produksi. Bareh Randang yang dibuat dapat bertahan sekitar satu minggu atau lebih.

Lebih dari empat dekade sejak berdiri, Bareh Randang Utama masih mempertahankan proses pembuatan yang sama.

Dari beras ketan, santan, dan air gula, kudapan tradisional tersebut terus diproduksi dan diperkenalkan kepada pembeli.

Tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan kualitas dan penjualan, tetapi memastikan usaha tersebut tetap memiliki penerus agar Bareh Randang tidak berhenti di satu generasi. (mg8)

Editor : Hendra Efison
Bareh Randang Payakumbuh makanan khas Payakumbuh Budaya Minangkabau UMKM Payakumbuh kuliner tradisional